
Terasa aneh barang kali, di jaman ke edanan seperti sekarang ini masih tetap mempertahankan sampai titik bensin yang terakhir buat barang loakan kayak motor 2 tak ini.
Ya mungkin bisa jadi goblok, mana cukup buat sekali jalan 1 liter doang. Mana lagi campuran oli bikin dompet terburai akibatnya.
Tapi bagiku, memelihara binatang keparat kayak begini udah terasa cukup bagiku. Yah syukur sepanjang kita nga terlalu di recokin oleh debt colektor yang selalu menagih bulanan buat bayar cicilan sepeda motor baru.
Maklum ini motor ku dapat dari seorang kenalan. Pas waktu kubayar langsung ku tarik ke Singkawang. Maksudnya karena aku nda punya sarana transportasi pp dari tempat kerja ke rumah.
Bekerja sebagai buruh design kayak aku sangat melelahkan, di mana aku selalu di kejar oleh ambisiku untuk melampiaskan obsesi menyelesaikan proyek apapun yang berbau “halal”. Sewaktu si busuk ini belum ku miliki aku gunakan transportasi bis, yang tak jarang sopir dan kondektur meng-gratiskan aku. Tapi dengan syarat aku harus bergelantungan di pintu bis mikrolet, mikro bus.
Mungkin karena cacatku yang membuat mereka prihatin. Ternyata di planet bumi masih saja ada orang yang jalannya miring. Kasian.
Nah kembali ke perjalanan menuju kota Singkawang, aku, orang rumah, dan anakku Icha waktu itu baru berumur setahun empat bulan. Meluncur tepat jam 07.00 wib. Rencana “A” harus berjalan seperti yang pernah ku komitkan dalam otakku.
Udara dingin terasa menusuk tulang kala itu, maklum waktu itu Pontianak dilanda kabut tebal nan pekat. Pandangan berkisar 500 meter saja. Sebenarnya ibuku tidak merestui, perjalanan kami tapi oleh karena aku sudah bulatkan tekad untuk hijrah ke Singkawang. Apa pun yang terjadi aku harus berangkat demi cita-cita membangun kehidupan keluarga yang baru saja aku di anugerahi bayi yang membuat sejarah besar kehidupanku.
Sejarah besar, karena aku dan isteri berhasil merawat bayi dengan berat 1,3 kg sempet sangkut tembuni di pintu rahim sekitar 3 jam. Badan bayiku sudah biru, tapi setelah di adzankan aku bisikkan telinganya “Nak, aku bapakmu selamat datang melihat dunia ciptaan Allah SWT, jangan khawatir ayah dan ibu juga nenek bersyukur dengan kehadiranmu di sini, aku akan sekuat tenaga merawatmu, jika tidak….., aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri!” begitu bisikku ke telinganya sambil memperdengarkan surah Al Ikhlas ketelinga.
Oleh karena untuk mewujudkan impian kami inilah, aku beranikan diri membeli PX yang aku juga sedih. Manakala di tengah perjalanan di kota Mempawah, tiba-tiba mesin ngejim, sekeluarga aku hampir terpental, Alhamdulillah mungkin karena niat yang tulus. Aku dapat menguasai setang yang terasa bergetar dan liar. Maklum kondisi shock depan juga is dead.
Terasa sebuah mimpi buruk, isteriku terlihat pucat tapi tak kuasa berkomentar, mungkin takut karena aku juga bisa kalap kalo ngamuk. Entah aku juga tidak mengerti……
Ku coba membuka bagasi tempat pekakas kunci-kunci untuk membuka si semok yang ngadat. Ya sedikit info, aku dulunya juga sering bongkar pasang ini barang sendiri. Akibat keracunan organisasi Vespa Tua di kota ku. Tapi semenjak berkeluarga aku pension, nah uang pensiunnya aja belum ku ambil. Mungkin nanti di rapel saja, sementara ini simpan saja dulu ya. Buat yang baca ini tulisan diem-diem ae yo…
Permasalan terjadi ring piston ambrul, akhirnya berakibat blok silinder oval baret agak lecet. Ada sedikit pecah di lubang bilas. Ya ampun…., aku agak lupa ternyata aku ada bekal piston dengan ring yang sama. 9 M. udah terakhir kali ya….setelah kuganti coba start ternyata hidup…lagi….
Tapi motor tidak mau di genjot, praktis jalannya kayak kena bisul di selangkangan. Karena terjadi kebocoran kompresi. Dengan tertatih kucoba mengemudikan hingga sampailah aku di suatu bengkel temanku yang berkecimpung di dunia Vespa. Dan dari sana ku dapatkan blok excel 2 M original yang sampai sekarang biar bunyi mirip suami isteri bentrok lempar-lemparan piring belum kuganti tapi larinya cukup 100. Belum lagi noken as-nya yang ewer-ewer. Ya sudahlah…….
Patut di syukuri, dari kejadian-kejadian aneh mungkin Allah SWT, hanya mencoba kami, dan memberi tuntunan agar keluar dari permasalahan. Inilah rahmah dan hidayah-Nya, karena setiap sebelum aku berpergian “Ayatul Kursi” kumohonkan selalu jadi perisaiku.
Ya mungkin bisa jadi goblok, mana cukup buat sekali jalan 1 liter doang. Mana lagi campuran oli bikin dompet terburai akibatnya.
Tapi bagiku, memelihara binatang keparat kayak begini udah terasa cukup bagiku. Yah syukur sepanjang kita nga terlalu di recokin oleh debt colektor yang selalu menagih bulanan buat bayar cicilan sepeda motor baru.
Maklum ini motor ku dapat dari seorang kenalan. Pas waktu kubayar langsung ku tarik ke Singkawang. Maksudnya karena aku nda punya sarana transportasi pp dari tempat kerja ke rumah.
Bekerja sebagai buruh design kayak aku sangat melelahkan, di mana aku selalu di kejar oleh ambisiku untuk melampiaskan obsesi menyelesaikan proyek apapun yang berbau “halal”. Sewaktu si busuk ini belum ku miliki aku gunakan transportasi bis, yang tak jarang sopir dan kondektur meng-gratiskan aku. Tapi dengan syarat aku harus bergelantungan di pintu bis mikrolet, mikro bus.
Mungkin karena cacatku yang membuat mereka prihatin. Ternyata di planet bumi masih saja ada orang yang jalannya miring. Kasian.
Nah kembali ke perjalanan menuju kota Singkawang, aku, orang rumah, dan anakku Icha waktu itu baru berumur setahun empat bulan. Meluncur tepat jam 07.00 wib. Rencana “A” harus berjalan seperti yang pernah ku komitkan dalam otakku.
Udara dingin terasa menusuk tulang kala itu, maklum waktu itu Pontianak dilanda kabut tebal nan pekat. Pandangan berkisar 500 meter saja. Sebenarnya ibuku tidak merestui, perjalanan kami tapi oleh karena aku sudah bulatkan tekad untuk hijrah ke Singkawang. Apa pun yang terjadi aku harus berangkat demi cita-cita membangun kehidupan keluarga yang baru saja aku di anugerahi bayi yang membuat sejarah besar kehidupanku.
Sejarah besar, karena aku dan isteri berhasil merawat bayi dengan berat 1,3 kg sempet sangkut tembuni di pintu rahim sekitar 3 jam. Badan bayiku sudah biru, tapi setelah di adzankan aku bisikkan telinganya “Nak, aku bapakmu selamat datang melihat dunia ciptaan Allah SWT, jangan khawatir ayah dan ibu juga nenek bersyukur dengan kehadiranmu di sini, aku akan sekuat tenaga merawatmu, jika tidak….., aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri!” begitu bisikku ke telinganya sambil memperdengarkan surah Al Ikhlas ketelinga.
Oleh karena untuk mewujudkan impian kami inilah, aku beranikan diri membeli PX yang aku juga sedih. Manakala di tengah perjalanan di kota Mempawah, tiba-tiba mesin ngejim, sekeluarga aku hampir terpental, Alhamdulillah mungkin karena niat yang tulus. Aku dapat menguasai setang yang terasa bergetar dan liar. Maklum kondisi shock depan juga is dead.
Terasa sebuah mimpi buruk, isteriku terlihat pucat tapi tak kuasa berkomentar, mungkin takut karena aku juga bisa kalap kalo ngamuk. Entah aku juga tidak mengerti……
Ku coba membuka bagasi tempat pekakas kunci-kunci untuk membuka si semok yang ngadat. Ya sedikit info, aku dulunya juga sering bongkar pasang ini barang sendiri. Akibat keracunan organisasi Vespa Tua di kota ku. Tapi semenjak berkeluarga aku pension, nah uang pensiunnya aja belum ku ambil. Mungkin nanti di rapel saja, sementara ini simpan saja dulu ya. Buat yang baca ini tulisan diem-diem ae yo…
Permasalan terjadi ring piston ambrul, akhirnya berakibat blok silinder oval baret agak lecet. Ada sedikit pecah di lubang bilas. Ya ampun…., aku agak lupa ternyata aku ada bekal piston dengan ring yang sama. 9 M. udah terakhir kali ya….setelah kuganti coba start ternyata hidup…lagi….
Tapi motor tidak mau di genjot, praktis jalannya kayak kena bisul di selangkangan. Karena terjadi kebocoran kompresi. Dengan tertatih kucoba mengemudikan hingga sampailah aku di suatu bengkel temanku yang berkecimpung di dunia Vespa. Dan dari sana ku dapatkan blok excel 2 M original yang sampai sekarang biar bunyi mirip suami isteri bentrok lempar-lemparan piring belum kuganti tapi larinya cukup 100. Belum lagi noken as-nya yang ewer-ewer. Ya sudahlah…….
Patut di syukuri, dari kejadian-kejadian aneh mungkin Allah SWT, hanya mencoba kami, dan memberi tuntunan agar keluar dari permasalahan. Inilah rahmah dan hidayah-Nya, karena setiap sebelum aku berpergian “Ayatul Kursi” kumohonkan selalu jadi perisaiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar