Tampilkan postingan dengan label Keluargaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluargaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2009

Ban “ Dede “ Melempong


Tuit, tuit, terdengar letupan ringtone Motorola pujaanku berdentum. Suaranya nyaring, terlihat display memunculkan nama “Hempasan Hatiku!”.

Pasti, tapi setelah kuangkat, ternyata tawa kecil yang taka sing lagi ku dengarkan. Sapa lagi kalo bukan si centil Icha-ku. “Pak, ban speda dede melempong!” tanpa say hello. Berulang tiga kali, ya saat itu signal lagi kering seperti kemarau yang terjadi di sini, seperti juga sungai Kapuas dapat di darati belalang di tengahnya.

Masa sih, “Iya nanti bapak belikan gantinya”. Bujuknya. Agar dia tak lagi merengek pada ibunya. Tetap saja dia nyerocos.

Kutanyakan alasannya, tapi ternyata ban sepeda yang dapat di kayuhnya roda dua, pada umur dua tahun setengah itu. Memang uzur, bunganya sudah gandul seperti di gusur dozer. Licin bro, di tambah hiasan ban dalam menyembul keluar. Kulihat sebelum aku meninggalkannya untuk menghalap jalan dan tugas ini.

Suara kecil itu semakin bercerita hal ikhwal melempong bin gembosnya.

Sepeda itu sendiri warisan Anggi, sepupunya yang kini tinggal di Jakarta.

Dek, dek... gumanku. Tanpa sempat aku bertepur alias bersembunyi dari rentetan mesiu. Dia maĆ­z nyerocos yang balik-balik merengek “Bapak, inilah balek, salok dede ni, sekalian belikan ban duak-duaknye ye pak…ye….o pak ye….????”

Dan tut…. Suaranya terputus, pulsanya habis.

Kamis, 12 Februari 2009

Selamat Jalan...Ayahku Sayang


Mengenang Ayah Tercinta, Bp. E. Sugandi. SE

Beliau adalah seorang pensiunan teknik PT. Garuda Indonesia saat itu, kepulangan ke rahmatullah membawa duka yang dalam bagi kami sekeluarga.
Awal sakitnya karena beliau menderita diabet berat, setelah pensiun dini, beliau ikut bekerja pada maskapai perusahaan di Singapura. Menangani over houle jumbo jet. Maklum beliau memiliki realese untuk itu. Dan lulus tes kecakapan teknik selalu dengan hasil memuaskan.
Terbukti, sewaktu menjadi teknisi di Pontianak untuk urusan Fokker-28 beliau sering di mintai masukan buat nangani pesawat tersebut rute Jakarta-Pontianak-Jakarta. Dan jarang sekali trouble untuk berangkat dari Pontianak ke Jakarta. Engine selalu sip, beliau terkekeh saat ku jemput pulang, dari bandara Supadio Pontianak. Maklum waktu itu Vespa Sprint nya ku pake buat kuliah. Penataran P4 di universitas negeri di kota ini.
Beliau semasa hidupnya di dedikasikan untuk perusahaan. Pengabdian, disiplin waktu sangat di hargai oleh seorang yang bersuku Sunda ini.
Hari-hari setelah pulang kerja cuma bikin perapian buat hewan peliharaannya sapi, setelah sholat dan makan dengan ibuku di lanjutkan membaca buku panduan si Fokker, yang berbahasa Inggris.
Tak jarang, ujian semesteran bahasa Inggris nya selangit. Waktu di UPB Pontianak.
Tawaran kerja mungkin di dapet dari relasi beliau, bisa jadi license buat realese jumbo jet masih berlaku saat itu. Jadi mudah saja keberadaan beliau di lacak. Tapi yang jelas itu karena dedikasi tinggi beliau, selain supel dan banyak yang senang akan kelakarnya.
Mungkin setiap yang punya ntu, data base nya tersimpan rapi di negeri asalnya atau gimana aku juga nga sempet nanya kemarin.
Kami dulu pernah tinggal di Jakarta seputaran Peta Barat, Jakarta Barat. Dulu mengontrak sebulan sak juta, angka yang fantastis, dan kayaknya penghasilanku nga sampe segitu sekarang hehehe.
Sebelum akhirnya beliau membeli sebuah rumah yang pas buat adik, juga ibuku.
Seperti halnya di Jakarta, beliau cuma pake kopaja ke bandara, selebihnya motong jalan pintas dengan jalan kaki. Bukan karena kikir, beliau seneng jalan, lantaran keramahan beliau menyapa semua orang sehingga lebih cepet di kenal sama masyarakat sekitar.
Satu hal yang terkadang menjengkelkan dengan ulah beliau yang diabet itu, beliau sering nyuri-nyuri minum es kopyor kelapa, bukan karena kelapanya, tapi kebanyakan gula palsunya yang jelas-jelas itu dilarang dokter.
Makanya mama sering ngomel, bukan karena benci, tapi karena perhatian ibuku, juga merasa bertanggung jawab pada suami untuk memperhatikan kondisi kesehatannya.
“Nanti kalo bapak, kekurangan gula juga nga boleh”. Kilah beliau lirih. Kalo kedapetan kami-kami orang memergoki beliau kedapatan minum. Yang lebih lucunya lagi, kadang seperti kucing-kucingan beliau membeli es kegemarannya.
Aku sendiri tidak merasa tega melihat keadaan beliau, asal tidak keseringan biarlah pikirku saat itu.
Ada satu hal yang di tanamkan beliau pada kami, adalah di tanamkannya rasa kasih sayang tanpa membedakan aku yang tiri, dengan anaknya yang lain.
Bukan karena kekuranganku, bahkan diam-diam aku pernah mendengar beliau begitu kagum dengan kepiawaianku melukis, penuh ide kreatif, tapi semua itu tidak membuat aku besar kepala. Dan merasa bangga akan semua itu, karena ku sadar. Semua itu karena beliau yang memfasilitasi aku dengan pendidikan yang telah di ajarkannya.
Ku serap ke disiplinan dari seorang ayah yang baik hati, paling tidak memperhatikan aku yang kutu loncat ini, seperti anaknya sendiri.
Selamat jalan ayah, doa ku semoga peristirahatanmu tenang di sana, semoga kebajikan dan amal yang telah kau berikan kepada ku, senantiasa menjadi bekal amal yang di ridhai Allah SWT. Kedamaian, ringan jalanmu dan di jauhi dari fitnah dunia yang memberatkanmu selama menghadap lillahi rabbi. Amien.
Bapak “bayek la pak! Salok ni dede ni pak…!”

Kata-kata merengek yang sering di lontarkan oleh si sulung Icha kepada aku. Saat ku telpon, untuk menebus rasa kangenku berjumpa, bermain, bersenda gurau dengan buah hati kesayanganku.
Tadinya emang jujur, aku kangen sama ibunya (jangan kasi tau yang laen ya…, rahasia sama situ aja yang baca ini…hue hehe ehe).
Baru aja sepatah dua patah bicara, keburu telpon ibunya di sambar Icha “si lesung pipit” julukan yang di berikan oleh semua orang ketika melihat si centil ini tersenyum. “Bapak, bayek la pak” begitu rengek nya seperti kaset yang di putar berulang-ulang. “Bapak bayek jam blape? Situ ade nek wan keh?” (ibu ku maksudnya) pertanyaan seperti berondongan AK-47 macet.
“Iya sayang, bapak sebentar lagi pulang, tapi bapak kerja dulu…, nanti kita maen lagi ya kalo bapak pulang?” bujukku membesarkan hatinya.
“Dede ni salok (kangen:Sambas), be…same bapak…salok dede ni!”. Tegasnya yang terkadang dengan intonasi yang lebih di tekan pada lafal salok. “Dede ni sayang, ngan bapak, dede nih tunggu bapak pulang….?”. sambungnya berharap.
“Tapi kan bapak cari uang dulu…, buat beli coklat, permen, beli kue, beli pita rambut, beli…”. Bujukku.
“Nda…k!, dede nda mau beli ape-ape, bapak tu nda usah capek, bapak tu nda usah bawak duet, bapak tu, dede cume maok bapak balek be…?” pintanya polos. “Dede ni maen sorang-sorang ni pak…” terangnya.
Membuatku terkekeh, terkadang aku berucap Alhamdulillah, aku di beri seorang gadis mungil yang berpikiran cerdas seperti ini.
Tingakah lakunya, terkadang membuatku semakin gemes, namun satu penyakitnya. Tidak bisa jauh dari pangkuanku, manja itulah sifatnya.
Ya, aku sadar ini terjadi karena aku jarang pulang, untuk setiap harinya. Di karenakan aktivitas mengharuskan aku berjarak dengan buah hatiku. Makanya bisa manja begini, uh….
Tanda-tanda kedekatannya padaku ketimbang induknya, mulai terasa waktu bayi. Setiap kepergianku untuk mencari sesuatu yang merupakan kewajibanku selaku kepala keluarga. Ibunya sambil mengendong selalu mengantarkanku di depan pintu seperti layaknya sinetron.
Dia menatapku dengan mata yang sendu, seolah-olah tau bakal di tinggal beberapa saat, ku lihat air mata isteriku mengalir. Seolah tak tega melihat si centil ini berpisah denganku barang sesaat.
Ini aseli lho, pemirsa !.
Ya, inilah kenyataan yang di hadapi. Dan harus ku lalui, entah sampai kapan.
Yang terpenting aku tak berniat salah, kepada mereka berdua. Aku benar-benar, mencari sesuatu yang memang harus ku cari, dan itulah kewajibanku.
Meski tak selayak orang-orang besar, tak sepadan jerih payahku dengan hasil yang ku dapat. Dan tak semewah atau perlente seperti kebanyakan mereka yang turun naik mobil pribadi.
Paling tidak aku memiliki perlawanan, bahwa hidup yang keras ini harus ku tempa dengan semangat baja dengan beberapa keahlian yang ku dapatkan dari hasil riset ku sendiri, dari lembaga yang bernama yang di sebut “Wax_sanggop, yang melayani segala jenis pekerjaan melalui lintas sector pengorbanan halal”. Karena aku bukan pengemis, aku tak mau hidup ini dalam sebuah jalan buntu.
Belum berhasilnya aku, ini hanya di karenakan aku adalah sebuah boneka yang dapat di nina-bobokan, seperti kobokan.
Yakinlah ini adalah proses, gerbang menuju kesuksesan.
Anak ku sayang berdoa lah, agar esok bapak mu mendapat sebuah wadah yang lebih jelas untuk lebih efisien dalam berkarya. Bukan nasib seperti hari-hari kemarin, bahkan bukan seperti saat engkau belum terlahir ke dunia ini, bukan seperti saat kita hijrah dan pulang lagi ke sini.
Agar esok di kemudian hari bapak tidak lagi bekal tenda, dan bila engaku lelah bapak akan setia meng ipok-ipok kan (ipok-ipok = nina-bobok : bahagialah si nina namanya selalu di sebut).
Icha sayang, sabar ya nak ya…

Pengikut

Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Berlayar

Seperti air, seharusnya hidup memberi kehidupan bagi makhluk di dalamnya...

By Alexa

Review http://www.national-chev.blogspot.com on alexa.com