Kamis, 12 Februari 2009

Bapak “bayek la pak! Salok ni dede ni pak…!”

Kata-kata merengek yang sering di lontarkan oleh si sulung Icha kepada aku. Saat ku telpon, untuk menebus rasa kangenku berjumpa, bermain, bersenda gurau dengan buah hati kesayanganku.
Tadinya emang jujur, aku kangen sama ibunya (jangan kasi tau yang laen ya…, rahasia sama situ aja yang baca ini…hue hehe ehe).
Baru aja sepatah dua patah bicara, keburu telpon ibunya di sambar Icha “si lesung pipit” julukan yang di berikan oleh semua orang ketika melihat si centil ini tersenyum. “Bapak, bayek la pak” begitu rengek nya seperti kaset yang di putar berulang-ulang. “Bapak bayek jam blape? Situ ade nek wan keh?” (ibu ku maksudnya) pertanyaan seperti berondongan AK-47 macet.
“Iya sayang, bapak sebentar lagi pulang, tapi bapak kerja dulu…, nanti kita maen lagi ya kalo bapak pulang?” bujukku membesarkan hatinya.
“Dede ni salok (kangen:Sambas), be…same bapak…salok dede ni!”. Tegasnya yang terkadang dengan intonasi yang lebih di tekan pada lafal salok. “Dede ni sayang, ngan bapak, dede nih tunggu bapak pulang….?”. sambungnya berharap.
“Tapi kan bapak cari uang dulu…, buat beli coklat, permen, beli kue, beli pita rambut, beli…”. Bujukku.
“Nda…k!, dede nda mau beli ape-ape, bapak tu nda usah capek, bapak tu nda usah bawak duet, bapak tu, dede cume maok bapak balek be…?” pintanya polos. “Dede ni maen sorang-sorang ni pak…” terangnya.
Membuatku terkekeh, terkadang aku berucap Alhamdulillah, aku di beri seorang gadis mungil yang berpikiran cerdas seperti ini.
Tingakah lakunya, terkadang membuatku semakin gemes, namun satu penyakitnya. Tidak bisa jauh dari pangkuanku, manja itulah sifatnya.
Ya, aku sadar ini terjadi karena aku jarang pulang, untuk setiap harinya. Di karenakan aktivitas mengharuskan aku berjarak dengan buah hatiku. Makanya bisa manja begini, uh….
Tanda-tanda kedekatannya padaku ketimbang induknya, mulai terasa waktu bayi. Setiap kepergianku untuk mencari sesuatu yang merupakan kewajibanku selaku kepala keluarga. Ibunya sambil mengendong selalu mengantarkanku di depan pintu seperti layaknya sinetron.
Dia menatapku dengan mata yang sendu, seolah-olah tau bakal di tinggal beberapa saat, ku lihat air mata isteriku mengalir. Seolah tak tega melihat si centil ini berpisah denganku barang sesaat.
Ini aseli lho, pemirsa !.
Ya, inilah kenyataan yang di hadapi. Dan harus ku lalui, entah sampai kapan.
Yang terpenting aku tak berniat salah, kepada mereka berdua. Aku benar-benar, mencari sesuatu yang memang harus ku cari, dan itulah kewajibanku.
Meski tak selayak orang-orang besar, tak sepadan jerih payahku dengan hasil yang ku dapat. Dan tak semewah atau perlente seperti kebanyakan mereka yang turun naik mobil pribadi.
Paling tidak aku memiliki perlawanan, bahwa hidup yang keras ini harus ku tempa dengan semangat baja dengan beberapa keahlian yang ku dapatkan dari hasil riset ku sendiri, dari lembaga yang bernama yang di sebut “Wax_sanggop, yang melayani segala jenis pekerjaan melalui lintas sector pengorbanan halal”. Karena aku bukan pengemis, aku tak mau hidup ini dalam sebuah jalan buntu.
Belum berhasilnya aku, ini hanya di karenakan aku adalah sebuah boneka yang dapat di nina-bobokan, seperti kobokan.
Yakinlah ini adalah proses, gerbang menuju kesuksesan.
Anak ku sayang berdoa lah, agar esok bapak mu mendapat sebuah wadah yang lebih jelas untuk lebih efisien dalam berkarya. Bukan nasib seperti hari-hari kemarin, bahkan bukan seperti saat engkau belum terlahir ke dunia ini, bukan seperti saat kita hijrah dan pulang lagi ke sini.
Agar esok di kemudian hari bapak tidak lagi bekal tenda, dan bila engaku lelah bapak akan setia meng ipok-ipok kan (ipok-ipok = nina-bobok : bahagialah si nina namanya selalu di sebut).
Icha sayang, sabar ya nak ya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Berlayar

Seperti air, seharusnya hidup memberi kehidupan bagi makhluk di dalamnya...

By Alexa

Review http://www.national-chev.blogspot.com on alexa.com