
Negaraku Adalah Negara Agraris.
Padi sebelum di giling kulit arinya untuk menjadi beras adalah sala satu bahan pokok utama makanan orang di asia. Tidak terkecuali di Indonesia, khususnya warga di Kalimantan Barat ini, makanan pokoknya adalah beras yang di tanak menjadi nasi yang sebelumnya di tanam oleh para petani lazim di sebut padi.
Bersyukur mempunyai seorang isteri yang rutinitasnya sebagai seorang petani, jadi tau sedikit mengenai cara-cara menanam padi. Sebelum di tanam, media tanam sering di sebut sawah musti di bersihkan dari gulma yang tidak berguna, rumput, alang-alang, adalah musuh petani dan tak kalah penting musuh utama biang keladi kegagalan adalah tikus, serangga. Selain hama yang di sebabkan oleh batang tubuh padi itu sendiri. Dan sekarang di hajar banjir pula.
Selama musim tanam biasanya, para petani terutama kaum perempuan bekerja secara gotong royong berdasarkan kelompok regu.
Kalo di tempatku biasa di sebut “ belaleg” konsonan kata ini berasal dari bahasa Sambas. Yang artine bergantian. Dalam arti setiap anggota berhak mendapatkan bantuan dari para anggota belaleg tadi untuk membantu mengerjakan petak-petak sawah.
Ukuran petak sawah ini bisa berupa “borong” ada lagi istilah “anggar” satu anggar buka 10 depa tangan manusia (bukan lutung) dengan panjang 11,5 depa tangan. Tergantung berapa luas meter persegi lahan yang di miliki oleh petani. Bisa satu hektar, sepertiga, atau setengah hektar, yang di perkecil satuannya menjadi anggar tadi, jadi maen anggar bukan saja di arena olah raga tapi bisa juga di sawah huahaha ha !!!.
Bisa jadi mereka yang memiliki 1 atau 2 hektar sawah bisa saja mendapat jatah di bantu dengan cara demikian.
Tapi justru tidak akan sebanding jika mereka hanya mempunyai lahan setengah hektar saja di balas oleh yang telah mendapat jatah satu hektar tadi.
Selain semaian “lambagkan” (melembagakan : proses persemaian anak padi di area tanam) cepat selesai di lakukan pekerjaan sampingan para ibu petani seperti menganyam tikar, menanggok ikan dan udang receh di tepian anak cabang sungai Kapuas, di depan rumah. Oh ya, markas kami di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Nah barusan ini aku coba kontak ke rumah via hp. Kebetulan aku dan isteri menggunakan jasa operator flexy, jadi nelpon sampai sebel tambah kuping panas, batere low power, agak ngirit biaya, ketimbang pake gsm, paling doyan juga sms. Tapi sakitnya kalo sms bujoku nga ngerti nulis, maklum “gaptech bae be bong….”.
Katanya barusan dia ngeremet santan, buat minyak goreng tradisional. Waktu luang ini adalah karena kegiatan positif dari belaleg tadi.
Salam sayang buat Annisa Warahmah & Ana bujoku… wanita tabah nunguin aku pulang ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar