Jumat, 13 Februari 2009

Cari Uang Halal Klik Foto Ini


Panen Manggis Punya “ Pak Andah Sa’u ”

Ini kali team lumrah coba-coba melaporkan kejadian mungut hasil bumi. Di sungai Bemban, Punggur.
Saat itu mentari remang-remang bersinar di atas kepala, sebab pada waktu itu kita tidak dapat dengan jelas memprediksikan keadaan cuaca yang tidak menentu. Hanya saja dapat kami pertegas ini saatnya panen buah langsat tiba.
Langsat punggur terkenal manis, dan ranum. Nama latinnya (……..) dari varietas (……).
Si buah mungil sebesar dua kali bahkan tiga kali kelereng ini, terkenal hingga ke negeri jiran Malaysia – Brunei Darussalam. Banyak wisatawan sesama rumpun menyempatkan diri ke Punggur, yang masih terbilang muda di Kabupaten Kubu Raya ini.
Orang-orang yang tinggal di daerah ini di dominasi suku Bugis pendatang dan turunan, merupakan komunitas berasarkan garis keluarga. Disamping Madura-Melayu. Yang hidup berdasarkan kelompok-kelompok.
Ada pula merupakan pencampuran, oleh karena pertalian perkawinan.
Tanaman yang memiliki akar menjalar selain tunjang, timbul sebagian ke permukaan tanah, di perlukan perawatan yang baik pula agar menghasilkan buah banyak dan tahan akan penyakit buah.
“Biasanya, orang di musim petik ini banyak yang mengambil upahan. Upah mereka terbilang mahal sehari bisa lima puluh ribuan, dengan ketentuan makan tanggung, rokok sembarang milih merek, kopi”. Kata Mak Long Kolek nara sumber kami, yang merupakan kakak pak Andah, bibi dari isteriku. Yang punya keahlian merias pengantin itu.
Salah satu perawatan terpenting adalah pembersihan areal tanam dari semak belukar, dan pengairan pada alur parit kecil, agar buah tidak lekas mengalami gugur. Yang pada akhirnya mengurangi jumlah produksi buah, karena buah lepas dari tangkainya sebelum waktu panen tiba.
Sewaktu kami berjalan-jalan sekitar kebun, di dapati pula buah “gugur”, kami coba untuk memungut untuk kemudian mengupas kulit arinya yang terkesan agak sedikit layu. Lalu “asem, kecut bo….” Saat setelah mencicipi barang yang kecil mungil ini, mataku tekisep-kisep. Dan Icha tersayang menertawaiku.
“Name-eng jak buah jatuh bang, ya masam lah” jelas urang rumahku. Yang lebih gesit memilih buah siap panen itu.
Jam menunjukkan pukul 11 siang pas. Tepat posisiku berada di depan pohon manggis yang rindang dan terkesan angker, karena batang pohon lebih di dominasi warna hitam sekalian di tumbuhi lumut.
Ku tengadahkan pandanganku ke atas, di balik rimbunan daunnya yang hijau terlihat buah si hitam manis ini malu-malu menampakkan tubuhnya yang sintal.
Tadinya orang rumahku ingin memanjat, tapi buru-buru ku larang.
Biasa lah, bukan saja orang yang tengah bercinta saja wajib romantis.
Tapi nga salah aku yang kelewat tua untuk becinta lagi ini. Mencoba untuk menjadi Save-I-There-Man. Dengan cara memegang bonggol-bonggol, ranting dan bertahan di dahan yang kuanggap kokoh.
Mirip Spiderman, kelupaan kostumnya, waktu manjat.
Tiba untuk menjolok buah itu dengan galah yang lama nongkrong rebahan di pohon, bak menyodok bola billiard dengan qyu. Ku coba shooting ball dan buset, terkena tipis hamper aku ikut terjatuh di buatnya.
Susah juga, galah panjang ternyata tak membuat semua buah nurut untuk lepas dari tangkainya. Karena semakin panjang, semakin sulit kita mengambil posisi “enak” buat menyodok, apakah posisi senggereng ataukah akan kita entam dari berokang.
Cara yang terbaik kata orang rumahku, dengan cara di “guyuk = kincah “ ( mengguncang tubuh, tetap bertahan di dahan ) dengan harapan buah tadi karena getaran lurus ke dahan akan di teruskan ke tangkai buah oleh karena cepat rambat gelombang getar bolak-balik tidak di iringi kekuatan si tangkai makanya buah tadi terlepas dari pegangan tangkai dan terjun bebas ke tanah. Hasil riset alang – kadut.
Hunjaman buah bila terkena kepalo bisa bikin puyeng sesaat, karena belum tentu semua buah masak.
Beberapa yang mengkal, ini yang bikin nikmat kalo pas mendarat di jidat. Nyamber jerawat batu, yang punatnya agak biru lebam.
Terbukti si centilku hampir ngambek saat buah manggis tersebut mendarat tepat di jempol kakiknya, tapi terobati mana kala si buah jatuh telak mendarat tepat mengenai bokong induknya ( bujoku ) yang tengah nungging memungut buah jatuh, dia pun terpingkal-pingkal.
Keruan saja ibunya ngamuk melemparkan sisa-sisa pecahan buah tepat mengenai mata kakiku. Seraya tersenyum, “bodo abang tok be…!”. “Eh, yang suroh aku ngincah dahan sape?” aku balik berkilah sambil membalikkan posisi tubuh, mempertahankan senyum kegelianku.
Suasana terasa mesra, mirip saat waktu pacaran kilat.
Makanya lebih enakan pacaran setelah kawin daripada kelamaan pacaran terus kawin malah nga enak. Sesekali harus berkelakar, menghilangkan lika-liku hidup yang di buat susah.
Aku kira sudah cukup, satu kantong pelastik sebagai buah tangan dari buah hitam manis ini. Bekal pulang…., bukan apa-apa man…, ni pohon sama buahnya punya Pak Andah Sa’u. ijin aja belum!.
Berikutnya kami memungut lagi buah-buah langsat jatuh yang berserakan di tanah, tapi ampun pemirsa!, nyamuknya menghitam terbang di sekitar ketinggian tubuh kita.
Sontak si Icha, protes sama nyamuk yang mengejar dan menghunjamkan jarum mautnya ke kulitnya yang sensitive, bentul dan memerah, suaranya saja mirip mesin Mitsubishi Zero One, AU Jepang di jaman perang pasifik raya.
Aku nga betah, mendingan pulang deh. Seraya mengendong si lesung pipit, yang merengek mohon perlindunganku dengan kalimat “may day…, may day!!!” dari serangan bertubi-tubi, bayangkan asap rokok kretek harga tiga setengah ribuan saja tidak mampu mengenyahkan para penyerang yang berjibaku seolah-olah berteriak “banzai…banzai” sambil menyodorkan sangkurnya ke lawan.
Lagi-lagi kantong yang di bawa isteriku sudah penuh semua.
Dan siang itu pun, langit-langit hitam pekat, guntur petir bersiulan mirip akapela, kilatan cahaya petir sesekali terpancrit bak bom fosphor Zionist jatuh menjitaki saudara-saudaraku di Gaza City, bunyinya juga terdengar merdu,mirip bunyi rudal yang singgah di bangunan di hamper setiap sudut kota Gaza.
Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menandakan serangan udara, di atas kebun pak Andah di mulai, tempat perlindungan buat kami hanya, bakul yang telah kosong tapi lebih utama menutupi kepala anakku dari hujaman derasnya titik-titik air, yang jatuh menghempas ke bumi berkah dan rahmat Allah SWT ini. Alhamdulillah.
Sambil long march, kami menyisiri, semak belukar, parit kecil, bunker tikus, dan keciprak air yang sebagian menggenangi patok embarkasi antar kebun.
Kami pulang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Berlayar

Seperti air, seharusnya hidup memberi kehidupan bagi makhluk di dalamnya...

By Alexa

Review http://www.national-chev.blogspot.com on alexa.com