Berpetualang Dengan Vespa Bututku
Berpetualang sekeluarga tapi bukan dengan kendaraan roda emprat seperti yang anda punya. Memiliki makna tersendiri bagiku. Bagaimana tidak di kala defisit anggaran sering melanda kocek kami sekeluarga. Dui hanya pas-pasan buat beli bensin aku tetep nekat membawa si isteri dan anakku mengelilingi indahnya malam di kota amoy, Singkawang. Kota yang kental dengan nuansa oriental dan memiliki keunikan tersendiri.
Malam itu selepas Isya aku menghidupkan mesin, drueng…tung tung tung. Bunyi knalpot yang siang tadi baru ku beleg sendiri dengan api las. Suara terasa garing karena serabut peredam yang membatu ku buang berikut sekat, dan ku tambah volume buang dengan cara menambah pipa diameter 20 mm pada pengkolan dan langsung ku hubungkan pada perut. Dari perut tadi ku lubangi sambung dengan pipa sama langsung di pertemuken pada lubang buang.
Al hasil suara mirip ketarik pada putaran kecil tapi sebetulnya garang pada putaran atas kayaknya cocok buat touring. Tapi ini juga di dukung dengan lubang bilas dan isap pada ruang abdul bin baker yang telah ku cukur sebelumnya dengan pena penghancur ruang mesin. Akibatnya semburan merata dan napas panjang banget.
Terasa enteng waku gas di betot, suara garing sepesial tidak pake telor angsa bikin ciri khas sendiri. Inilah akibat sering bergaul sama barang-barang rongsokan. Maunya experimen mulu, bisa jadi tukang insinyur di Italia sana marah karena produknya di otok-otok sama pendekar tak bertanggung jawab.
Suka ati.
Anehnya isteriku bilang suaranya beda dengan yang lain orang punya. Ya beda dong… ini lakik mu ni beda ni……
Asik melihat lampu kota, dan anakku yang baru belajar ngomong tah….tuh….tuh… pu….mirip bahasa planet tapi kayaknya kami tau itu lampu “indah sekali pak!”. Lucu dan sering membuat aku gemes. Sama buah hati yang begitu cerdas.
Ini perjalanan ngirit, tanpa sepengetahuan isteriku sebenarnya aku telah menuangkan minyak goreng ke dalam campuran bensin motorku. Sebab oli-ku habis, layaknya seperti isi dompet ini.
Sesampainya di rumah, isteriku yang mengendong si kecil buru-buru masuk kedalam gubug beneran dengan pintu tidak pernah terkunci. Ya rumah itu bekas rumah kakek yang terpaksa kami rubuhkan bagian bangunan utama karena rayap. Dan mempertahankan bagian dapur sebagai tempat hunian sekeluarga.
Terdengar bunyi brug!, sepertinya dia merudu baskom pakaian. Maklum waktu itu kami masih pakai lampu teplok, karena aliran PLN di putus belum di mohonkan untuk sambung kembali. Lagi-lagi masalah duit bok.
Setelah motor ku taruh di belakang rumah, lampu badai menyala, dia berusaha mencari wajan di tengah keremangan sinar lampu. Ketika wajan telah di letakkan di atas perapian tungku, dia mencari botol minyak goreng yang tadi kutuang untuk menggoreng singkong hasil pemberian tetangga di belakang rumah.
Tiba-tiba dia menanyaiku, “mana minyak gorengku bang?”. Terpikir untuk tidak menjawab, karena tadi sebelum pergi ku tuang dalam tanki si butut yang baru saja kami naiki bertiga. Sebagai pengganti pelumas yang tidak mampu ku beli saat itu. Inilah petualangan, tak ada rotan akar pun jadi, artinya tak ada oli pencampur, minyak goreng pun jadi pelumas sementara. Sempel!!!!!!!!!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar