Jumat, 18 Desember 2009
Cara Nyambung Hotspoot
Keluh kesah bukan lagi sebagi imbalan dari sugesti menuju kegagalan. Aku harus membuktikan dan membuktikan hanya untuk diriku bahwa aku harus bisa menguasai kendali ekonomi yang carut-marut di bintangi pelangi warna lekas luntur.
Waw, sekarang petani ini sudah bisa OL 24 jam menggunakan jasa hotspot berbayar, yang kongsi dagang seperti jaman VOC. Hahaha tapi kongsi dagang ini nga seperti jaman feodal, ini kongsi sama adekku, rencananya kami mau buka jalinan mesra “Hotspot” maksudnya begini. Terusin aja pelototin tulisan ini...
Gimana caranya tu hotspoot biar nga di putusin oleh admin bisa di gunakan bagi mereka yang mau wifi-an. Terus mutlak mesan sekedar minuman alakadutan-nya dengan bubuk mesiu hotspoot-ku ini. Sebenarnya ini juga udah menjamur di sekitar areaku, tapi nga salah di coba. Karena di tempatku sendiri ini jadi markas tempat curhat kawan-kawan yang jadi salesman. Bahkan provokator game online yang doyan kemari juga semakin giat ke sini. Ujung-ujungnya, musti rela nyeruput adukan kopi instant, soal musti ngerti dunk, udah di kasih tempat duduk, bisa wifian numpang dari omahku, masa sih nga bayar parkir sekedar sedekah bagi gwe yang sampai saat ini masih belum bisa megang cangkul. Karena ngan bisa membungkuk gara-gara engsel pinggangku nga compatible.
Yah udah nasib, masih syukur bisa dapet jodoh dan sekalian di jadiin bini, dan ibu dari anak sulungku... yah udah jangan sedih mending pidatonya kita “Lanjutken” lagi.
Oke...oke..., nah kalo udah begini rasanya agak plong, inget nga kalo dulu aja buat internetan aku musti gusrak-gusruk nambel ban. Buat modal internetan. Nah sekarang aku juga bikin “bisnis online” lewat internet bung !!!. ini di dapet dari belajar via internet dan baca sejumlah blog yang asyik memberikan pencerahan bagi diriku yang selalu haus informasi.
Semua kupelajari sendiri, maklum dulu waktu kuliah salah jurusan, jadi aku kadang gelisah. Mau di terusin..., hati kagak sreg..., nga di terusin.... kasian ortu. Tapi waktu itu kebanyakan pacaran... yang jelas bikin sial hidup dan waktuku saja... mana ketika itu di anggep gagal lagi..., karena keberhasilan seseorang wajib di buktikan sama “Gelar, Bukan sama Isi Otak dan Ide!!!”. Buset, jadi “Pengalaman Bukan Guru Dalam Hidup Ini....” dasar doktrin sialan...
Ah.., terlepas mau di tanggepi atau nga sing penting aku nga mau denger comment-mu sekitaran bobot, bibit, bebet, babat dan bobot. Jalan terus..., ente punya doktrin aku juga, ente punya trik ane funya intrik, ente punya modal... ane punya setrilyun ide..., yang belum di kembang kempusin..., sekitar kehidupan lumrah aje..., jangan jauh-jauhlah.
Sekitar pemanfaatan nyambung ini LAN dah syukur berarti bagi ane sekeluarge. Asal ini di gunakan buat tujuan baek, bukan buat download acces porno, atau content yang bikin rusak ini moral pemuda di bangsa-ku tercinta. Jujur dulu iya..., sekarang kagak lagi... busen... dah punya istri soalnya..., kerajingan cari nafkah dari pada download begituan.
Yah, Alhamdulilah berkat sambungan ini kami kaum petani dan Asosiasi Penambel Ban Bocor. Dapet mengclick informasi seputar keberhasilan seseorang dan menjadikannya referensi motivasi, belajar mengolah tulisan untuk menerapkan pada bidang “Cari Duet Dengan Tidak Mengeluh”. Sombong kali kedengeran..., hehehe.
Semoga dan semoga, terima kasih buat Ibuku, Istri dan anakku, serta keluarga dan para kolega...
Selasa, 15 Desember 2009
Minggu, 13 September 2009
Sabtu, 12 September 2009
Ban “ Dede “ Melempong
Pasti, tapi setelah kuangkat, ternyata tawa kecil yang taka sing lagi ku dengarkan. Sapa lagi kalo bukan si centil Icha-ku. “Pak, ban speda dede melempong!” tanpa say hello. Berulang tiga kali, ya saat itu signal lagi kering seperti kemarau yang terjadi di sini, seperti juga sungai Kapuas dapat di darati belalang di tengahnya.
Masa sih, “Iya nanti bapak belikan gantinya”. Bujuknya. Agar dia tak lagi merengek pada ibunya. Tetap saja dia nyerocos.
Kutanyakan alasannya, tapi ternyata ban sepeda yang dapat di kayuhnya roda dua, pada umur dua tahun setengah itu. Memang uzur, bunganya sudah gandul seperti di gusur dozer. Licin bro, di tambah hiasan ban dalam menyembul keluar. Kulihat sebelum aku meninggalkannya untuk menghalap jalan dan tugas ini.
Suara kecil itu semakin bercerita hal ikhwal melempong bin gembosnya.
Sepeda itu sendiri warisan Anggi, sepupunya yang kini tinggal di
Dek, dek... gumanku. Tanpa sempat aku bertepur alias bersembunyi dari rentetan mesiu. Dia maĆz nyerocos yang balik-balik merengek “Bapak, inilah balek, salok dede ni, sekalian belikan ban duak-duaknye ye pak…ye….o pak ye….????”
Dan tut…. Suaranya terputus, pulsanya habis.
Jumat, 13 Februari 2009
Backdropt Styraifoam

Bikin Backdropt
Pertama, aku bikin pola tulisan pake software corel draw. Yang kubuat perbandingan 1 : 1, lalu polanya di print, jangan lali untuk proses ngeprintnya musti tile, nanti di sambung sendiri secara manual setelah keluar dari printer.
( sebelum ngai lanjutin, ada yang mau ngajarin gak sih, agar tulisan-tulisan gue di perjelas dengan gambar-gambar, caranya dari word, insert gambar udah. Nah masalah, copy – paste dari word lalu ke kotak entry blog ini sendiri aku belum paham bos, tulisan masuk di postingan, eh gambar yang banyak sebagai hasil buat menerangkan rangakaian point kegiatan nga ikut. Tolong ya pak ? )
Kedua, setelah hasil print di lem satu persatu sesuai kebutuhan dan ukuran sesungguhnya dari backdropt yang pastinya besar, tinggi dan panjang itu. Untuk kemudian di gunting pola tadi, nah waktu ngeprint pun fasilitas hairline dan fillnya musti di atur. Hairline di posisi on, sedangkan fill pada posisi none. Ini gue makde sud kan, agar tinta agak irit, karena si catride Cuma bikin pola luarnya aja. Saat ngeprint, dan tidak basah di kertas buat kita pola si backdropt.
Pola tadi kamu gunting, atau cutterin sendiri.
Temple di atas styraifoam = gabus putih. Perlembar 15 rebu 1 kepingnya. Ukuran 2 X 1 meter.
Nah gunakan pisau yang kita buat sendiri tadi. Kalo saya menggunakan gergaji ukir “U” untuk kemudian di bentang kawat halus bekas elemen, terus di aliri 12, 9, 7 volt dari 1000mA. Semakin besar volt, semakin cepet daya potong, tapi susah saat buat lekukan. Karena si foam keburu lonyot.
Maka dari itu gue kasih sakelar micro.
Waktu foam menyentuh sakelar dia on dan proses pemotongan jalan.
Kira-kira proses potong selesai tinggal sesuaikan aja, jarak perdesign. Mudah kan. Yang terpenting kreasi, semakin awak inovatif, maka semakin menarik kreasi design.
Cari Uang Halal Klik Foto Ini
Panen Manggis Punya “ Pak Andah Sa’u ”
Ini kali team lumrah coba-coba melaporkan kejadian mungut hasil bumi. Di sungai Bemban, Punggur.
Saat itu mentari remang-remang bersinar di atas kepala, sebab pada waktu itu kita tidak dapat dengan jelas memprediksikan keadaan cuaca yang tidak menentu. Hanya saja dapat kami pertegas ini saatnya panen buah langsat tiba.
Langsat punggur terkenal manis, dan ranum. Nama latinnya (……..) dari varietas (……).
Si buah mungil sebesar dua kali bahkan tiga kali kelereng ini, terkenal hingga ke negeri jiran Malaysia – Brunei Darussalam. Banyak wisatawan sesama rumpun menyempatkan diri ke Punggur, yang masih terbilang muda di Kabupaten Kubu Raya ini.
Orang-orang yang tinggal di daerah ini di dominasi suku Bugis pendatang dan turunan, merupakan komunitas berasarkan garis keluarga. Disamping Madura-Melayu. Yang hidup berdasarkan kelompok-kelompok.
Ada pula merupakan pencampuran, oleh karena pertalian perkawinan.
Tanaman yang memiliki akar menjalar selain tunjang, timbul sebagian ke permukaan tanah, di perlukan perawatan yang baik pula agar menghasilkan buah banyak dan tahan akan penyakit buah.
“Biasanya, orang di musim petik ini banyak yang mengambil upahan. Upah mereka terbilang mahal sehari bisa lima puluh ribuan, dengan ketentuan makan tanggung, rokok sembarang milih merek, kopi”. Kata Mak Long Kolek nara sumber kami, yang merupakan kakak pak Andah, bibi dari isteriku. Yang punya keahlian merias pengantin itu.
Salah satu perawatan terpenting adalah pembersihan areal tanam dari semak belukar, dan pengairan pada alur parit kecil, agar buah tidak lekas mengalami gugur. Yang pada akhirnya mengurangi jumlah produksi buah, karena buah lepas dari tangkainya sebelum waktu panen tiba.
Sewaktu kami berjalan-jalan sekitar kebun, di dapati pula buah “gugur”, kami coba untuk memungut untuk kemudian mengupas kulit arinya yang terkesan agak sedikit layu. Lalu “asem, kecut bo….” Saat setelah mencicipi barang yang kecil mungil ini, mataku tekisep-kisep. Dan Icha tersayang menertawaiku.
“Name-eng jak buah jatuh bang, ya masam lah” jelas urang rumahku. Yang lebih gesit memilih buah siap panen itu.
Jam menunjukkan pukul 11 siang pas. Tepat posisiku berada di depan pohon manggis yang rindang dan terkesan angker, karena batang pohon lebih di dominasi warna hitam sekalian di tumbuhi lumut.
Ku tengadahkan pandanganku ke atas, di balik rimbunan daunnya yang hijau terlihat buah si hitam manis ini malu-malu menampakkan tubuhnya yang sintal.
Tadinya orang rumahku ingin memanjat, tapi buru-buru ku larang.
Biasa lah, bukan saja orang yang tengah bercinta saja wajib romantis.
Tapi nga salah aku yang kelewat tua untuk becinta lagi ini. Mencoba untuk menjadi Save-I-There-Man. Dengan cara memegang bonggol-bonggol, ranting dan bertahan di dahan yang kuanggap kokoh.
Mirip Spiderman, kelupaan kostumnya, waktu manjat.
Tiba untuk menjolok buah itu dengan galah yang lama nongkrong rebahan di pohon, bak menyodok bola billiard dengan qyu. Ku coba shooting ball dan buset, terkena tipis hamper aku ikut terjatuh di buatnya.
Susah juga, galah panjang ternyata tak membuat semua buah nurut untuk lepas dari tangkainya. Karena semakin panjang, semakin sulit kita mengambil posisi “enak” buat menyodok, apakah posisi senggereng ataukah akan kita entam dari berokang.
Cara yang terbaik kata orang rumahku, dengan cara di “guyuk = kincah “ ( mengguncang tubuh, tetap bertahan di dahan ) dengan harapan buah tadi karena getaran lurus ke dahan akan di teruskan ke tangkai buah oleh karena cepat rambat gelombang getar bolak-balik tidak di iringi kekuatan si tangkai makanya buah tadi terlepas dari pegangan tangkai dan terjun bebas ke tanah. Hasil riset alang – kadut.
Hunjaman buah bila terkena kepalo bisa bikin puyeng sesaat, karena belum tentu semua buah masak.
Beberapa yang mengkal, ini yang bikin nikmat kalo pas mendarat di jidat. Nyamber jerawat batu, yang punatnya agak biru lebam.
Terbukti si centilku hampir ngambek saat buah manggis tersebut mendarat tepat di jempol kakiknya, tapi terobati mana kala si buah jatuh telak mendarat tepat mengenai bokong induknya ( bujoku ) yang tengah nungging memungut buah jatuh, dia pun terpingkal-pingkal.
Keruan saja ibunya ngamuk melemparkan sisa-sisa pecahan buah tepat mengenai mata kakiku. Seraya tersenyum, “bodo abang tok be…!”. “Eh, yang suroh aku ngincah dahan sape?” aku balik berkilah sambil membalikkan posisi tubuh, mempertahankan senyum kegelianku.
Suasana terasa mesra, mirip saat waktu pacaran kilat.
Makanya lebih enakan pacaran setelah kawin daripada kelamaan pacaran terus kawin malah nga enak. Sesekali harus berkelakar, menghilangkan lika-liku hidup yang di buat susah.
Aku kira sudah cukup, satu kantong pelastik sebagai buah tangan dari buah hitam manis ini. Bekal pulang…., bukan apa-apa man…, ni pohon sama buahnya punya Pak Andah Sa’u. ijin aja belum!.
Berikutnya kami memungut lagi buah-buah langsat jatuh yang berserakan di tanah, tapi ampun pemirsa!, nyamuknya menghitam terbang di sekitar ketinggian tubuh kita.
Sontak si Icha, protes sama nyamuk yang mengejar dan menghunjamkan jarum mautnya ke kulitnya yang sensitive, bentul dan memerah, suaranya saja mirip mesin Mitsubishi Zero One, AU Jepang di jaman perang pasifik raya.
Aku nga betah, mendingan pulang deh. Seraya mengendong si lesung pipit, yang merengek mohon perlindunganku dengan kalimat “may day…, may day!!!” dari serangan bertubi-tubi, bayangkan asap rokok kretek harga tiga setengah ribuan saja tidak mampu mengenyahkan para penyerang yang berjibaku seolah-olah berteriak “banzai…banzai” sambil menyodorkan sangkurnya ke lawan.
Lagi-lagi kantong yang di bawa isteriku sudah penuh semua.
Dan siang itu pun, langit-langit hitam pekat, guntur petir bersiulan mirip akapela, kilatan cahaya petir sesekali terpancrit bak bom fosphor Zionist jatuh menjitaki saudara-saudaraku di Gaza City, bunyinya juga terdengar merdu,mirip bunyi rudal yang singgah di bangunan di hamper setiap sudut kota Gaza.
Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menandakan serangan udara, di atas kebun pak Andah di mulai, tempat perlindungan buat kami hanya, bakul yang telah kosong tapi lebih utama menutupi kepala anakku dari hujaman derasnya titik-titik air, yang jatuh menghempas ke bumi berkah dan rahmat Allah SWT ini. Alhamdulillah.
Sambil long march, kami menyisiri, semak belukar, parit kecil, bunker tikus, dan keciprak air yang sebagian menggenangi patok embarkasi antar kebun.
Kami pulang…
