Tampilkan postingan dengan label Penyandang cacat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyandang cacat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2010

Keluh-Kesah Penyandang Cacat


KALANGAN Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga peduli Hak Azasi Manusia (HAM), selalu berkoar-koar di berbagai media cetak tentang pembelaan terhadap masyarakat lemah dan tergilas oleh kelompok-kelompok yang berkuasa. Namun, mereka terkesan tidak pernah membela nasib penyandang cacat, yang oleh sebagian kalangan dianggap warga kelas tiga.

Bukan hanya kalangan LSM dan lembaga peduli HAM, bahkan aparatur pemerintahan di Aceh seakan masih menilai kelompok orang cacat fisik tidak bermanfaat dan dipandang hina. Padahal, penyandang cacat juga memiliki hak yang sama dengan manusia lain, sebagaimana termaktub dalam PP No.4 tahun 1997 tentang Persamaan Hak dan Kewajiban bagi Penyandang Cacat di dalam pendidikan dan Pekerjaan lainnya.

Orang cacat selama ini hanya menjadi pengemis, tukang kusuk, dan dimanfaatkan oleh orang yang malas bekerja. Padahal, profesi itu tidak dijalankan dengan sepenuh hati. “Kami sebenarnya punya harga diri juga sebagaimana orang normal,” kata M Hasbullah. Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Cabang Aceh Utara, Muhammad Hasbullah (32) mengatakan, seharusnya pemerintah, kalangan LSM, dan lembaga yang membawa bendera HAM dapat membela juga kepentingan orang cacat. Hasbullah mengaku sangat sedih melihat kaum penyandang cacat yang selama ini sama sekali tidak dipeduli oleh pemerintah.

Selama ini belum ada sentuhan dengan pendidikan formal dari pihak pemerintah Aceh. Padahal, dana APBK dan APBA tiap tahun lebih dari satu triliun di Tk-II, namun tidak ada porsi untuk sekolah para penyandang cacat. Di berbagai desa, kalau ada anak petani yang cacat tidak pernah tersentuh dengan pendidikan formal. Mereka hanya dibiarkan hidup buta mata, buta aksara, dan buta dengan segala pengetahuan.

Sebenarnya, tambah Hasbullah, kalau pemerintah punya kepedulian, di Aceh tidak perlu banyak membangun sekolah penyandang cacat. Di setiap kabupaten/kota cukup hanya satu sekolah saja. Namun, fasilitasnya harus memadai, termasuk rekrutmen tenaga pendidiknya harus orang-orang yang punya pendidikan di bidang asuhan penyandang cacat.

Beberapa waktu lalu pihaknya pernah berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Dia melihat ada beberapa guru pengajar di sekolah itu yang tidak punya pengalaman di bidang kecacatan. Mereka ternyata tidak mengerti sama sekali, karena tak mengecap pendidikan di sekolah SLB. “Jangankan guru, fasilitas sekolah termasuk perangkat sekolah belum ada, hanya sebagai formalitas saja. Bagaimana diajari orang cacat, sementara gurunya tidak pernah berpengalaman untuk mendidik orang cacat,” kata M Hasbullah.

Bahkan, tambah Muhammad Hasbullah, guru yang ada di sekolah SLB Krueng Geukueh tidak mampu menggunakan dan menguasai ejaan huruf Braille, huruf khusus untuk tunanetra. “Kalau gurunya tidak punya pengalaman, bagaimana mau diajari, “ kata ayah seorang anak yang lulusan pendidikan sekolah cacat setingkat SMA di Ciamis, Jawa Barat, ini.

Ditambahkan, kalau di daerah lain, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, pemerintah sangat serius dengan pendidikan SLB dan tidak dianggap penyandang cacat sebagai pengemis. Mungkin itu sebabnya di sana tidak banyak pengemis seperti halnya Aceh. Bahkan, ada guru PNS yang penyandang cacat dan mereka khusus disiapkan mengajar di sekolah cacatan dengan huruf Brailer, termasuk guru penyandang cacat ikut menjadi PNS. Sementara di Aceh, jelasnya, belasan penyandang cacat lulusan Ciamis, Jawa Barat, tak satu pun dimanfaatkan jasanya, padahal mereka mampu menjadi guru di sekolah SLB di Aceh.

Muhammad Hasbullah mengatakan, apa yang telah dijelaskan ini dapat dipertanggungjawabkan. Malah dia mampu mengumpulkan semua rekannya yang lulusan Ciamis, Jawa Barat. “Kini mereka hanya membuka praktik jadi tukang kusuk, padahal pengalamannya ada, entah karena dianggap hina oleh pemerintah, entah karena tidak memahami PP No.4 tahun 1997,” ujar M Hasbullah.

Kalaulah kini banyak penyandang cacat di Aceh menjadi peminta-minta, itu bukan kehendaknya semata. Dikatakan, ada empat faktor yang menentukan nasib mereka. Pertama, karena perhatian pemerintah daerah yang kurang. Kedua, faktor keawaman keluarganya yang tiap ada anaknya yang cacat bersikap pasrah dan dijadikan sebagai pengemis.

Faktor ketiga adalah tidak adanya keterampilan yang disebabkan kurang pedulinya pemerintah dan pihak yang mampu. Dan yang terakhir, orang cacat dimanfaatkan oleh kelompok orang-orang yang malas bekerja. “Lalu, mereka mengambil orang cacat mencari nafkah, kata M Hasbullah, malah selama ini paling banyak orang cacat diambil oleh pemalas bekerja, mereka dibawa jalan-jalan mencari sedekah. Tiap hari masuk warung, rumah, kedai dan berbagai sudut pasar terus berputar mencari belas kasihan orang,” katanya. Bagi Muhammad Hasbullah sebagai penyandang Ketua ITMI Aceh Utara, dia meminta supaya masyarakat yang memiliki keluarga/anaknya cacat fisik tidak perlu minder. Tak perlu merasa hina.

Muhammad Hasbullah mengaku sangat sedih melihat kekurangan perhatian pemerintah terhadap penyandang cacat, padahal penyandang cacat tidak begitu banyak. Cukup satu daerah dibuka satu sekolah sudah memadai. Kalau penyandang cacat mendapat perhatian yang sama, setidaknya memberikan pemahaman bahwa cacat itu bukan suatu hambatan dalam hidup manusia dalam memperoleh pekerjaan.

Namun, kalau perhatian kurang, tentu keluarganya merasa minder dan bahkan kalau ada anaknya cacat merasa malu, akhirnya membiarkan mereka hidup tak memberikan pendidikan sebagaimana anaknya yang lain. Paling-paling bagi yang cacat hanya dibawa-bawa untuk mencari sedekah (pengemis) jalanan yang mengakibatkan banyak pengemis di berbagai daerah.

Lebih lanjut Hasbullah mengatakan, pihaknya yakin kalau nantinya setelah pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada penyandang cacat dengan membuka sekolah dan fasilitas bagus, setidaknya jumlah angka pengemis akan berkurang. Selama ini pengemis jalanan terlihat memenuhi banyak kota di Banda Aceh.

“Malah ada pengemis yang datang mengedor pintu. Pintu saya pun sering digedor mencari belas kasihan,” kata Muhammad Hasbullah. Hasbullah mengakui selama ini ada perasaan di hati penyandang cacat bahwa mereka adalah anak yang tidak berguna dalam kehidupan. Kasih sayang pun kurang dibandingkan anak yang lain. “Misalnya saya mengalami cacat mata, tapi tidak cacat hati, demikian juga orang lain. Mereka cacat tangan atau kaki, tapi bisa mengerjakan pekerjaan tertentu,” kata M Hasbullah.

Berdayakan Penyandang Cacat

Perhatian pemerintah terhadap penyandang cacat mulai berkembang. Berbagai upaya sokongan diberikan pemerintah dalam rangka pemberdayaan agar dapat berperan dalam mengisi pembangunan.

Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya mengatakan selama ini pemberdayaan telah dilakukan. Beberbagai program bantuan untuk penyandang cacat juga telah diberikan pemerintah melalui instansi terkait.

“Yang terpenting adalah pemberdayaan penyandang cacat, agar mereka mendapatkan pekerjaan layak. Kalau diberikan kesempatan mereka dapat berkarya dengan normal. Potensi dimanfaatkan untuk pembangunan, jangan dikonotasikan mereka tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali cacat berat,” jelas Christiandy usai menghadiri acara peringatan hari Internasional Penyadang Cacat (Hipenca) di Pendopo Gubernur Kalbar, Selasa (29/12) kemarin.

Dia menambahkan, penyadang cacat mesti dimotiviasi supaya dapat mandiri. Berbagai upaya dilakukan termasuk melibatkan masyarakat luas dan pihak swasta.

Untuk pihak swasta melibatkan penyandang cacat dalam aktivitasnya pemerintah provinsi Kalbar memberikan motivasi berupa penghargaan. Dalam kesempatan peringatan Hipenca 10 perusahan di Pontianak mendapatkan penghargaan karena memberdayakan penyadang cacat.

“Dukungan swasta cukup banyak memberdayakan penyadandang cacat ini. Terbukti 10 perusahaan dapat pengharagaan. Kalau saja masing-masing perusahaan merekrut tiga penyandang cacat saja, itu sudah cukup banyak,” jelasnya.

Tentuk hal tersebut menurutnya harus memperhatikan potensi penyadang itu sendiri. Dengan bekal kemampuan dan keterampilan yang ada mereka tidak kalah dengan normal. Tinggal kesempatan yang diberikan oleh masing-masing perusahaan.

Tahun 2010 ini pemerintah memberikan Rp 300 ribu perbulan bagi penyandang cacat berat. Di Kalbar pemerintah baru dapat mengalokasikan sebanyak 420 orang dari 1.700an penyandang cacat yang terdata.

Selain itu pemerintah juga memberikan sejumlah kursi roda kepda penyandang cacat utnuk beraktivitas. Kesempatan itu baru dua daerah yang diberikan kursi roda yakni di Landak dan Bengkayang. Kursi roda tersebut diberikan kepada penyandang cacat berusia dibawah 15 tahun.

Kepala Dinas Sosial Kalbar, M. Junaidi mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan pemberdayaan penyandang cacat. Namun, dua tahun belakangan mereka memfokuskan pada pemberiaan bantuan beraktivitas.

“Bantuan usaha ada tapi sejak tahun 2007 telah dihentikan. Dua tahun belakangan fokus pemberdayaan untuk mereka beraktifitas, memberikan alat-alat untuk mereka berusaha,” jelasnya.

Selain itu jelasnya, ada upaya pemerintah memberikan keterampilan kepada penyandang cacat dengan melakukan rekrutmen pelatihan di Cibinong. Disana mereka diberikan keterampilan agar dapat mandiri nantinya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Penyandang Cacat Kalbar, Suparlis mengungkapkan sejauh ini perhatian pemerintah dalam pemberdayaan penyandang cacat sudah cukup baik. Terbukti dengan dua tahun berturut pelaksanaan Hipenca di Pendopo Gubernur. Selain itu adanya bantuan usaha melalui Kelompok usaha bersama (Kube).

“Tapi tahun ini ditiadakan, mungkin pemerintah pusat sedang mencari format tepat untuk memberdayakan kami,” ujarnya.

Hanya saja dia menginginkan perhatian pemerintah terhadap penyandang cacat tidak hanya di tingkat Provinsi saja, tapi di kabupaten/kota. Karena penyandang cacat tersebar di seluruh Kalbar. (Ditulis oleh Rizky Wahyuni Rabu, 30 Desember 2009)

Sumber

Hidup adalah Sebuah Pilihan


Rina Prasarani,
Rina Prasarani, seorang wanita berusia 34 tahun. Rina yang tuna netra memiliki pekerjaan sebagai operator telepon di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta. Dia juga aktif di berbagai organisasi antara lain di Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) sebagai Kepala Departemen Pemberdayaan Wanita.
Rina mengungkapkan perempuan tuna netra atau penyandang cacat mendapatkan diskriminasi ganda yaitu sebagai penyandang cacat dan wanita. Jadi, sebagai perempuan sudah mendapat diskriminasi, kemudian juga diskriminasi sebagai penyandang cacat. Apalagi kalau datang dari keluarga yang miskin maka beban diskriminasi menjadi berlipat tiga.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Rina Prasarani Alamsyah.

Rina masih saudara saya, yaitu putri dari sepupu saya Berry Wismari Tanukusuma. Untuk menceritakan sosok Rina, saya bacakan satu kutipan kalimat dari sebuah media nasional. “Daya penglihatan Rina Prasarani kian menurun di usia remaja akibat digerogoti penyakit Retinitis Pigmentosa (RP). Sempat diliputi amarah dan kebingungan tapi tidak sampai larut, dia malu kalau harus membebani orang lain.” Sekarang Rina bukan saja tidak membebani tapi juga memberikan inspirasi dan nilai tambah bagi banyak orang. Saat ini saya mendengar Rina baru pulang dari Korea, suatu perjalanan yang tidak terbayangkan oleh orang lain dengan kondisi fisiknya. Kemana saja perjalanan yang telah Rina lakukan selama ini?
Kalau mewakili Indonesia untuk kegiatan penyandang cacat, saya pernah ke Australia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Jepang, Filipina, Swiss, Afrika Selatan, dan juga Korea.

Luar biasa. Jadi perjalanan ke Korea itu yang terkini. Apa saja yang dilakukan di Korea?

Di sana ada leadership training yang diselenggarakan Disable People International. Ada aplikasi pendaftaran yang disebarkan dan kita mendaftarkan diri. Kebetulan tahun ini hanya tiga negara yang dipilih yaitu Indonesia, Thailand dan Nepal. Kebetulan yang dipilih dari Indonesia adalah saya. Kegiatan tersebut selama satu minggu

Saya selalu melihat Rina menyanyi di depan umum. Bagaimana kegiatan Anda sebagai vokalis?

Kebetulan saya aktif di Diferensia Band. Diferensia adalah sebuah kata yang kami buat untuk mengganti kata penyandang cacat, dimana sebenarnya kami berbeda tapi bagi kami, “Just like you, we are normal, and just like me, we are different.”

Berapa lama Rina baru menyadari hal tersebut karena penyakit Anda terjadi saat mahasiswa?

Sebenarnya dari kecil, hanya hambatannya saat itu tidak terlalu signifikan. Jadi tidak menghalangi kegiatan saya sehari-hari. Hanya saja pada saat saya mahasiswa, kalau bergerak dan menuruni tangga sering jatuh. Sebenarnya yang membuat saya tidak ingin terlalu lama larut adalah pada tahun 1986 ayah saya terserang stroke di usia 46 tahun saat masa produktifnya. Ayah sangat down dan itu sangat berdampak pada ibu saya. Pada saat yang bersamaan, saya dan adik divonis Retinitis Pigmentosa. Bayangkan jika kami juga ikutan down, bagaimana ibu saya? Itu yang membuat kami bangkit. Kemurungan kita adalah the last thing that my mom needs.

Rina pada usia muda mengalami dua tantangan. Satu, ayahnya mendapat stroke. Sepupu saya Bery (orang tua Rina) itu orang yang sangat aktif, dia sering juara tenis meja. Dia sangat lincah bergaul, sekonyong-konyong stroke pada usia 46 tahun, pada saat Rina dan adiknya serius menghadapi penyakit pada matanya. Namun sangat ajaib bahwa baik Rina maupun Jaka (adik Rina) malah bisa menjadi inspirasi bagi keluarga. Walaupun berat untuk dibicarakan, saya ingin melihat dari segi yang praktis. Apakah Rina untuk bisa berfungsi aktif tanpa penglihatan mengikuti pelatihan atau ada penyesuaian dulu?

Pada saat saya menyadari akan kehilangan penglihatan, saya mulai lebih mengandalkan intuisi pendengaran, lalu hafalan di mana setiap kira-kira beberapa meter harus belok ke mana, itu kalau tempatnya familiar. Mungkin kalau ke tempat baru biasanya agak sulit. Tapi saya kan hanya kehilangan mata, tidak kehilangan mulut untuk bertanya di mana dan ada apa? Jadi, kebetulan masih saja ada orang-orang baik di jalan yang mau membantu.

Kalau saya lihat di negara-negara Barat orang tuna netra banyak yang menolong di jalan. Apakah di Jakarta juga begitu?

Masih ada, cuma caranya kadang salah. Misalnya, saya pergi ke kantor membawa tas ransel dan naik bus way. Kalau saya turun dari tangga bus way di depan kantor biasanya hanya ada ruang sedikit untuk belok ke kiri menuju trotoar lagi. Jadi di depannya langsung jalan raya. Saya sudah tahu harus ke mana karena sudah sehari-hari ke kantor. Tapi orang lain mungkin tidak tahu kalau saya sudah hafal jalan di situ. Jadi, dia tarik ransel saya dan saya reflek menepis tangannya karena khawatir pada copet. Padahal maksud dia baik, agar jangan sampai saya jatuh ke jalan.

Jadi Rina kalau pergi kerja sendiri, betulkah?

Iya, sendiri. Kebetulan di dekat rumah saya ada halte Trans Jakarta dan di dekat kantor juga ada. Jadi lebih mudah.

Lalu, soal lainnya seperti bagaimana cara Anda bisa memakai telepon genggam (handphone) atau apakah handphone Anda khusus memiliki huruf timbul (braille)?

Handphonenya biasa, cuma dipasang satu software yang namanya Talk. Namun software Talk ini hanya bisa dipasangkan pada handphone-handphone yang sudah mempunyai sistem operasi symbian. Jadi kalau ganti menu dan lainnya ada suara, tapi logatnya bule karena dia membacanya sesuai bahasa Inggris, seperti ‘a’ dibacanya ‘ei’. Saya sudah biasa pakai sehari-hari jadi sudah tahu apa yang diucapkannya. Kalau yang sudah mengenal saya biasanya mengirim pesan singkat (sms) kepada saya memakai bahasa Inggris, itu jauh lebih mudah.

Saya jadi teringat kembali pada Rina setelah menerima pesan dari kakak saya Luki Witoelar. Dia mengatakan Rina ada di facebook. Hebat sekali. Saya mengetahui Rina memiliki banyak akal. Tapi saya ingin bertanya bagaimana cara Rina mengisi facebook sebagai tuna netra?

Sama saja. Jadi di laptop atau komputer yang biasa dipasangkan software bernama Job Access With Speech untuk Windows (JAWS, software aplikasi membaca teks yang berfungsi di sistem operasi Windows). Jadi, apa yang tertulis bisa dikonversikan menjadi audio sehingga bisa saya dengarkan kecuali gambar. Kalau di bawah gambar itu ada tulisan maka saya tahu mengenai gambar itu.

Apakah papan ketiknya (keyboard) khusus?

Tidak. Kalau kita perhatikan keyboard pada huruf F dan J itu ada titik. Semua keyboard pasti ada tanda seperti itu, juga di telepon. Jadi untuk orang yang benar-benar bisa mengetik, yang sebetulnya tidak boleh melihat keyboard, karena dia harus melihat teks, mengetik dengan 10 jari. Jadi sama dengan saya juga tidak perlu melihat teks.

Menurut pengamatan Rina, apakah Anda termasuk yang sangat luar biasa di kalangan blind people karena menghadapi hidup dengan sangat tegar begitu?

Sebetulnya, saya lebih senang disebut dengan happy blind woman.

Sekarang mengenai hal-hal praktis yang Anda bisa hadapi, tapi kami sendiri suka susah menghadapinya seperti menghadapi tempat pemilihan suara di Pemilu. Tentu dalam hal ini tuna netra mempunyai problem lebih banyak. Bagaimana ceritanya?

Betul. Dari awal perubahan sistem coblos ke penandaan (contreng) saja tanpa disadari sudah berdampak luas bagi tuna netra.

Waktu itu sebetulnya kami sangat marah. Namun, yang sangat disayangkan adalah perubahan itu, katanya, karena sistem coblos masih mencerminkan peradaban yang belum maju. Menurut saya, kalau mau maju jangan memakai pulpen, tapi elektronik sekalian karena kita juga bisa menyelamatkan alam. Bayangkan berapa pohon yang harus ditebang untuk Pemilu kita. Selain itu, sistem penandaan juga tidak mengakomodir kerahasian hak pilih bagi tuna netra. Kebetulan kemarin kita coba untuk mendesain satu template sebagai alat bantu pilih bagi tuna netra. Bentuknya seperti map dan surat suaranya dimasukkan di sana. Jadi surat suaranya sama seperti pemilih lain tapi di map ini ada seperti braille sehingga kita tidak salah untuk memberi tanda pilihan. Namun itu baru bisa diciptakan untuk kertas suara pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) karena untuk surat suara untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sangat rumit, mencantumkan banyak nama-nama calon. Sebagai awal hal itu sudah okay, cuma yang sangat kita sangat sayangkan adalah sudah disetujui template itu untuk DPD tapi distribusi untuk alat bantu ini tidak merata dan pembuatannya tidak standar juga. Jadi ada braille yang tidak terbaca, ada surat suara yang tidak pas dengan template sehingga banyak sekali kekacauan di sana.

Itu sebetulnya lebih baik diatur dalam peraturan Pemilu maupun lainnya. Sejauh mana orang tuna netra mempunyai representasi untuk kepentingannya di dalam badan-badan legislatif?

Sebetulnya memang seharusnya kita masuk sebagai calon anggota legislatif (Caleg). Kebetulan kemarin juga banyak teman-teman dari penyandang cacat yang mengkaderkan diri menjadi Caleg. Yang baru saya tahu adalah kalau tidak salah di Bantul ada tuna netra yang berhasil terpilih menjadi anggota legislatif. Mudah-mudahan dari sini kita bisa menyalurkan aspirasi tuna netra karena terus terang saat ini masih kurang kepedulian pada tuna netra. Misalnya, peraturan lalu lintas yang baru disahkan tidak berpihak pada penyandang cacat. Ada satu pasal yang meminta untuk pejalan kaki penyandang cacat diberi tanda. Yang sangat marah sekali adalah orang-orang tua dari penyandang cacat tuna grahita. Bayangkan, dengan beban mereka sudah menjadi penyandang cacat tapi masih harus ditandai lagi. Itu menjadi beban psikologis. Mungkin maksudnya baik tapi karena ketidaktahuan atau caranya salah. Padahal pembuat kebijakan sudah sering bolak-balik ke luar negeri, tapi masih membuat kebijakan seperti ini.

Selain perwakilan langsung, apakah Anda juga mempunyai perwakilan di media massa barangkali ada orang yang suka menulis di koran atau seperti sekarang muncul di acara radio atau di forum lain? Apakah hal itu suka Anda lakukan sebagai pengurus Pertuni?

Kita pernah melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR dan juga talkshow-talkshow di televisi, tergantung isunya. Saat ini yang kita banyak dengungkan adalah masalah Pemilu tadi, tetapi ada hal-hal lain juga misalnya masalah pendidikan, ketenagakerjaan yang kita coba advokasikan pada setiap kesempatan.

Apakah hal itu tidak membuat kehidupan Rina lebih stres karena memikirkan persoalan banyak sekali, walaupun semua orang Indonesia juga stres tetapi pada umumnya tidak mau menambah beban pribadi?

Saya justru bangga bisa menjadi bagian dari itu semua. Jika memang ada perubahan di sana, saya ingin turut menjadi bagian, walaupun terkecil saja tidak apa-apa. Tidak usah yang besar tapi saya dapat ikut berpartisipasi dalam perubahan yang lebih baik.

Hal yang bisa kita pelajari dari sikap Anda karena perubahan itu pasti datang cuma kita tidak tahu ke arah mana. Lalu, apa yang menjadi perhatian Anda dan kawan-kawan ke depan?

Masalah perempuan tuna netra atau penyandang cacat. Kami mendapatkan diskriminasi ganda yaitu sebagai penyandang cacat dan perempuan. Jadi, sebagai perempuan sudah mendapat diskriminasi, kemudian juga diskriminasi sebagai penyandang cacat. Apalagi kalau kita datang dari keluarga yang miskin maka beban diskriminasi menjadi berlipat tiga.

Banyak perempuan-perempuan tuna netra atau peyandang cacat yang mendapat kekerasan budaya tanpa kekerasan. Artinya, kekerasan budaya itu justru ditimbulkan dari banyaknya kasih sayang, dimana perempuan tuna netra diharuskan di rumah saja, tidak usah kemana-mana. Akhirnya, mereka tidak mendapatkan akses pendidikan, kalau mereka tidak mendapatkan akses pendidikan maka mereka akan menjadi tidak berpendidikan sehingga saat dewasa mereka tidak dapat mengakses pekerjaan. Pada akhirnya itu akan menimbulkan dan menguatkan stigma bahwa perempuan tuna netra adalah beban keluarga.

Sumber

PENYANDANG CACAT PANJAT GEDUNG TERTINGGI JAWA TENGAH

Solo, Atlet penyandang cacat Kota Solo, M Sabar (41), memanjat gedung tertinggi di Jawa Tengah, Solo Paragon, dalam memeriahkan Hari Penyandang Cacat Internasional.

Dalam aksinya tersebut, Kamis, M Sabar memanjat gedung tersebut dari lantai dua menuju lantai 23 atau 88 meter dari 98 meter total tinggi bangunan tersebut.

M Sabar memanjat gedung yang akan dijadikan apartemen dan pusat perbelanjaan modern tersebut dengan teknik jumaring atau memanjat seutas tali vertikal.

Dia berhasil mencapai puncak gedung tersebut dengan waktu sekitar 16 menit dari 45 menit waktu yang ditargetkan olehnya.

Di puncak gedung tersebut, M Sabar menerbangkan sejumlah balon dan membentangkan spanduk yang bertuliskan "Difabel memberi bukti,", dan selanjutnya dia menuruni gedung tersebut untuk melakukan penghargaan dari pihak manajemen Solo Paragon.

"Aksi yang saya lakukan ini merupakan wujud pembuktian dari kaum difabel dapat melakukan banyak hal seperti orang normal. Bahkan, hal-hal yang sulit dilakukan orang normal, kaum difabel dapat melakukannya," kata ayah dari satu anak tersebut.

Dia mengatakan, aksi ini menjadi dorongan bagi pemerintah dan kalngan masyarakat lainnya untuk memberikan ruang yang lebih dalam penyetaraan hak-hak warga yang selama ini kurang dirasakan kaum difabel.

"Contoh yang paling nyata adalah dalam penyediaan lowongan kerja bagi kaum difabel. Selama ini banyak kalangan yang meremehkan kami," kata Sabar yang mengalami kecacatan sejak 1989.

Dia berharap melalui aksi ini dapat menggugah hati semau kalngan masyarakat dan pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih, terutama dalam kesempatan kerja, bagi kaum difabel.

Dia mengatakan, dalam aksi memanjat gedung tertinggi di Jawa Tengah tersebut, dia tidak mengalami kesulitan yang berarti.

"Saya telah mempersiapkan aksi ini, terutama dalam orientasi medan," kata atlet panjat tebing peraih medali emas nomor lead khusus difabel dalam kejuaraan panjat tebing Asian Championship 2008 di Chuncheoen, Korea Selatan.

Sebelum aksi ini, dia mengatakan, dia sering melakukan pemanjatan Gedung Balai Kota Surakarta setinggi enam lantai.

"Saya menargetkan pada 2010 atau 2011 akan memanjat Menara Kembar Pertonas di Malaysia. Mungkin persiapan yang akan saya lakukan adalah melakukan pemanjatan gedung-gedung tertinggi di Jakarta," kata M Sabar. (ant)

Sumber

Pengikut

Sekali Layar Terkembang, Pantang Surut Berlayar

Seperti air, seharusnya hidup memberi kehidupan bagi makhluk di dalamnya...

By Alexa

Review http://www.national-chev.blogspot.com on alexa.com