Jumat, 29 Januari 2010
Keluh-Kesah Penyandang Cacat
KALANGAN Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga peduli Hak Azasi Manusia (HAM), selalu berkoar-koar di berbagai media cetak tentang pembelaan terhadap masyarakat lemah dan tergilas oleh kelompok-kelompok yang berkuasa. Namun, mereka terkesan tidak pernah membela nasib penyandang cacat, yang oleh sebagian kalangan dianggap warga kelas tiga.
Bukan hanya kalangan LSM dan lembaga peduli HAM, bahkan aparatur pemerintahan di Aceh seakan masih menilai kelompok orang cacat fisik tidak bermanfaat dan dipandang hina. Padahal, penyandang cacat juga memiliki hak yang sama dengan manusia lain, sebagaimana termaktub dalam PP No.4 tahun 1997 tentang Persamaan Hak dan Kewajiban bagi Penyandang Cacat di dalam pendidikan dan Pekerjaan lainnya.
Orang cacat selama ini hanya menjadi pengemis, tukang kusuk, dan dimanfaatkan oleh orang yang malas bekerja. Padahal, profesi itu tidak dijalankan dengan sepenuh hati. “Kami sebenarnya punya harga diri juga sebagaimana orang normal,” kata M Hasbullah. Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Cabang Aceh Utara, Muhammad Hasbullah (32) mengatakan, seharusnya pemerintah, kalangan LSM, dan lembaga yang membawa bendera HAM dapat membela juga kepentingan orang cacat. Hasbullah mengaku sangat sedih melihat kaum penyandang cacat yang selama ini sama sekali tidak dipeduli oleh pemerintah.
Selama ini belum ada sentuhan dengan pendidikan formal dari pihak pemerintah Aceh. Padahal, dana APBK dan APBA tiap tahun lebih dari satu triliun di Tk-II, namun tidak ada porsi untuk sekolah para penyandang cacat. Di berbagai desa, kalau ada anak petani yang cacat tidak pernah tersentuh dengan pendidikan formal. Mereka hanya dibiarkan hidup buta mata, buta aksara, dan buta dengan segala pengetahuan.
Sebenarnya, tambah Hasbullah, kalau pemerintah punya kepedulian, di Aceh tidak perlu banyak membangun sekolah penyandang cacat. Di setiap kabupaten/kota cukup hanya satu sekolah saja. Namun, fasilitasnya harus memadai, termasuk rekrutmen tenaga pendidiknya harus orang-orang yang punya pendidikan di bidang asuhan penyandang cacat.
Beberapa waktu lalu pihaknya pernah berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Dia melihat ada beberapa guru pengajar di sekolah itu yang tidak punya pengalaman di bidang kecacatan. Mereka ternyata tidak mengerti sama sekali, karena tak mengecap pendidikan di sekolah SLB. “Jangankan guru, fasilitas sekolah termasuk perangkat sekolah belum ada, hanya sebagai formalitas saja. Bagaimana diajari orang cacat, sementara gurunya tidak pernah berpengalaman untuk mendidik orang cacat,” kata M Hasbullah.
Bahkan, tambah Muhammad Hasbullah, guru yang ada di sekolah SLB Krueng Geukueh tidak mampu menggunakan dan menguasai ejaan huruf Braille, huruf khusus untuk tunanetra. “Kalau gurunya tidak punya pengalaman, bagaimana mau diajari, “ kata ayah seorang anak yang lulusan pendidikan sekolah cacat setingkat SMA di Ciamis, Jawa Barat, ini.
Ditambahkan, kalau di daerah lain, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, pemerintah sangat serius dengan pendidikan SLB dan tidak dianggap penyandang cacat sebagai pengemis. Mungkin itu sebabnya di sana tidak banyak pengemis seperti halnya Aceh. Bahkan, ada guru PNS yang penyandang cacat dan mereka khusus disiapkan mengajar di sekolah cacatan dengan huruf Brailer, termasuk guru penyandang cacat ikut menjadi PNS. Sementara di Aceh, jelasnya, belasan penyandang cacat lulusan Ciamis, Jawa Barat, tak satu pun dimanfaatkan jasanya, padahal mereka mampu menjadi guru di sekolah SLB di Aceh.
Muhammad Hasbullah mengatakan, apa yang telah dijelaskan ini dapat dipertanggungjawabkan. Malah dia mampu mengumpulkan semua rekannya yang lulusan Ciamis, Jawa Barat. “Kini mereka hanya membuka praktik jadi tukang kusuk, padahal pengalamannya ada, entah karena dianggap hina oleh pemerintah, entah karena tidak memahami PP No.4 tahun 1997,” ujar M Hasbullah.
Kalaulah kini banyak penyandang cacat di Aceh menjadi peminta-minta, itu bukan kehendaknya semata. Dikatakan, ada empat faktor yang menentukan nasib mereka. Pertama, karena perhatian pemerintah daerah yang kurang. Kedua, faktor keawaman keluarganya yang tiap ada anaknya yang cacat bersikap pasrah dan dijadikan sebagai pengemis.
Faktor ketiga adalah tidak adanya keterampilan yang disebabkan kurang pedulinya pemerintah dan pihak yang mampu. Dan yang terakhir, orang cacat dimanfaatkan oleh kelompok orang-orang yang malas bekerja. “Lalu, mereka mengambil orang cacat mencari nafkah, kata M Hasbullah, malah selama ini paling banyak orang cacat diambil oleh pemalas bekerja, mereka dibawa jalan-jalan mencari sedekah. Tiap hari masuk warung, rumah, kedai dan berbagai sudut pasar terus berputar mencari belas kasihan orang,” katanya. Bagi Muhammad Hasbullah sebagai penyandang Ketua ITMI Aceh Utara, dia meminta supaya masyarakat yang memiliki keluarga/anaknya cacat fisik tidak perlu minder. Tak perlu merasa hina.
Muhammad Hasbullah mengaku sangat sedih melihat kekurangan perhatian pemerintah terhadap penyandang cacat, padahal penyandang cacat tidak begitu banyak. Cukup satu daerah dibuka satu sekolah sudah memadai. Kalau penyandang cacat mendapat perhatian yang sama, setidaknya memberikan pemahaman bahwa cacat itu bukan suatu hambatan dalam hidup manusia dalam memperoleh pekerjaan.
Namun, kalau perhatian kurang, tentu keluarganya merasa minder dan bahkan kalau ada anaknya cacat merasa malu, akhirnya membiarkan mereka hidup tak memberikan pendidikan sebagaimana anaknya yang lain. Paling-paling bagi yang cacat hanya dibawa-bawa untuk mencari sedekah (pengemis) jalanan yang mengakibatkan banyak pengemis di berbagai daerah.
Lebih lanjut Hasbullah mengatakan, pihaknya yakin kalau nantinya setelah pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada penyandang cacat dengan membuka sekolah dan fasilitas bagus, setidaknya jumlah angka pengemis akan berkurang. Selama ini pengemis jalanan terlihat memenuhi banyak kota di Banda Aceh.
“Malah ada pengemis yang datang mengedor pintu. Pintu saya pun sering digedor mencari belas kasihan,” kata Muhammad Hasbullah. Hasbullah mengakui selama ini ada perasaan di hati penyandang cacat bahwa mereka adalah anak yang tidak berguna dalam kehidupan. Kasih sayang pun kurang dibandingkan anak yang lain. “Misalnya saya mengalami cacat mata, tapi tidak cacat hati, demikian juga orang lain. Mereka cacat tangan atau kaki, tapi bisa mengerjakan pekerjaan tertentu,” kata M Hasbullah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar