Berpetualang Dengan Vespa Bututku
Berpetualang sekeluarga tapi bukan dengan kendaraan roda emprat seperti yang anda punya. Memiliki makna tersendiri bagiku. Bagaimana tidak di kala defisit anggaran sering melanda kocek kami sekeluarga. Dui hanya pas-pasan buat beli bensin aku tetep nekat membawa si isteri dan anakku mengelilingi indahnya malam di kota amoy, Singkawang. Kota yang kental dengan nuansa oriental dan memiliki keunikan tersendiri.
Malam itu selepas Isya aku menghidupkan mesin, drueng…tung tung tung. Bunyi knalpot yang siang tadi baru ku beleg sendiri dengan api las. Suara terasa garing karena serabut peredam yang membatu ku buang berikut sekat, dan ku tambah volume buang dengan cara menambah pipa diameter 20 mm pada pengkolan dan langsung ku hubungkan pada perut. Dari perut tadi ku lubangi sambung dengan pipa sama langsung di pertemuken pada lubang buang.
Al hasil suara mirip ketarik pada putaran kecil tapi sebetulnya garang pada putaran atas kayaknya cocok buat touring. Tapi ini juga di dukung dengan lubang bilas dan isap pada ruang abdul bin baker yang telah ku cukur sebelumnya dengan pena penghancur ruang mesin. Akibatnya semburan merata dan napas panjang banget.
Terasa enteng waku gas di betot, suara garing sepesial tidak pake telor angsa bikin ciri khas sendiri. Inilah akibat sering bergaul sama barang-barang rongsokan. Maunya experimen mulu, bisa jadi tukang insinyur di Italia sana marah karena produknya di otok-otok sama pendekar tak bertanggung jawab.
Suka ati.
Anehnya isteriku bilang suaranya beda dengan yang lain orang punya. Ya beda dong… ini lakik mu ni beda ni……
Asik melihat lampu kota, dan anakku yang baru belajar ngomong tah….tuh….tuh… pu….mirip bahasa planet tapi kayaknya kami tau itu lampu “indah sekali pak!”. Lucu dan sering membuat aku gemes. Sama buah hati yang begitu cerdas.
Ini perjalanan ngirit, tanpa sepengetahuan isteriku sebenarnya aku telah menuangkan minyak goreng ke dalam campuran bensin motorku. Sebab oli-ku habis, layaknya seperti isi dompet ini.
Sesampainya di rumah, isteriku yang mengendong si kecil buru-buru masuk kedalam gubug beneran dengan pintu tidak pernah terkunci. Ya rumah itu bekas rumah kakek yang terpaksa kami rubuhkan bagian bangunan utama karena rayap. Dan mempertahankan bagian dapur sebagai tempat hunian sekeluarga.
Terdengar bunyi brug!, sepertinya dia merudu baskom pakaian. Maklum waktu itu kami masih pakai lampu teplok, karena aliran PLN di putus belum di mohonkan untuk sambung kembali. Lagi-lagi masalah duit bok.
Setelah motor ku taruh di belakang rumah, lampu badai menyala, dia berusaha mencari wajan di tengah keremangan sinar lampu. Ketika wajan telah di letakkan di atas perapian tungku, dia mencari botol minyak goreng yang tadi kutuang untuk menggoreng singkong hasil pemberian tetangga di belakang rumah.
Tiba-tiba dia menanyaiku, “mana minyak gorengku bang?”. Terpikir untuk tidak menjawab, karena tadi sebelum pergi ku tuang dalam tanki si butut yang baru saja kami naiki bertiga. Sebagai pengganti pelumas yang tidak mampu ku beli saat itu. Inilah petualangan, tak ada rotan akar pun jadi, artinya tak ada oli pencampur, minyak goreng pun jadi pelumas sementara. Sempel!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 12 Februari 2009
Lowongan Kerja 2009

Bisnis Halal di Internet
Persoalan demi persoalan banyak di hadapi saat ini, yang mencolok adalah angka pengangguran yang signifikan meningkat. Tambah lagi, krisis global menghantam seolah menambah resep susah bagi banyak kalangan.
Lagi, pada kalangan yang betul-betul kepepet mencari kerja. Utang pada numpuk, perut makin kempes, kantong di isi dompet hanya di peruntukkan buat naroh semua bon utang.
Paling juga terdapat ktp yang udah afkir, mana presan nya udah buluk amat, kasian deh lu.
Ini alat yang biasa ku guna kan buat mencari duit halal, namanya aja brushmania man!!! Apa aja sikat…, asal duitnya bukan infaq dari para koruptor.
Biar keringat bikin baju bau apek, jari-jari sering sakit karena ke jepit saat bongkar-pasang-congkel ring ban, di pelak. Yang penting niat insun mas!, kerja keras di kehidupan yang keras asal jangan minum air keras, di atas benda keras, yang dapat mengeras. Ambeklah tu pengeras….
Coba pelototi yang satu ini.
Ini sebuah solusi bagi ban kempes, alat pres yang di otaki oleh siapa? Dari Negara mana ia berasal? Tahun pembuatan? No seri? No mesin? Hak paten?
Cuma di sana tertera tulisan “ Bukan Hasil Korupsi”.
Lalu….utilitas memiliki kelebihan mengatasi bocor ban daleman, dengan cara di pres setelah sebelumnya di beri karet penambal yang kemudian di panasi pake api spirtus.
Biasanya berkisar 5 menit proses tambal selesai, tinggal mengemas kembali ban dalam ke lingkar pelak, lalu di tiup pake pompa, kalo pake mulut, nanti boros bibirnya, lantas ketok magig bibirnya tinggal sorong pake penyengat.
Upahnya per 5000 doang, untuk sekali tambal, kalo yang bocor ban sepeda motornya bintang tamu Bukan 4 Mata yang seksi semua bisa turun 80 % asal berani gendong abang yang tuampan ini dari Kebumen-Cililitan-Celeng-Indramayu pp nga pake singgah beli menyan. Lantas akomodasi di tanggung promoter, kalo nga percaya tukul aja kepalanya mas….Tukul….mas…hayo sapa berani tukul kepalanya mas…Tukul…..aja sekalian.Hehehehe mbanyol
Yang tidak berani dianggap tinggal kelas, dan denda tidak lagi di beri bonus les privat.
Kembali ke alat pres…, kalo beli djadi bisa 100 ribuan, kepikir nga ya…, alat ini di produksi masal yang jelas bisa menyerap keuntungan beberapa kali lipat.
Jelas dong! taruhlah dari profit hasil penjualan laba bersih setelah gaji karyawan 15 ribuan per unit dikalikan 1000 unit tiap hari di kalikan 460 juta milyar tahun….
Wah ternyata, bisa kaya mendadak, dari perkalian tersebut, di puter lagi modalnya di adakan sewa-menyewa penambal ban. Tiap 1,5 meter di buka usaha tambal ban ini. Satu coverage area.
Jadi sampeyan tinggal turun dari rumah mengambil uang sewa tambal tadi sampai keujung balik lagi kerumah dan begitu lagi, nga banyak 500 rupiah saja di kalikan penambal yang telah di produksi di kalikan yang telah terjual di kalikan yang anda sewakan…. Mudah bukan bisnis bagi pemula ini….
Pemula menuju tes psikologis……….!!!!!???? Siapa berminat invest ????
Bapak “bayek la pak! Salok ni dede ni pak…!”
Kata-kata merengek yang sering di lontarkan oleh si sulung Icha kepada aku. Saat ku telpon, untuk menebus rasa kangenku berjumpa, bermain, bersenda gurau dengan buah hati kesayanganku.
Tadinya emang jujur, aku kangen sama ibunya (jangan kasi tau yang laen ya…, rahasia sama situ aja yang baca ini…hue hehe ehe).
Baru aja sepatah dua patah bicara, keburu telpon ibunya di sambar Icha “si lesung pipit” julukan yang di berikan oleh semua orang ketika melihat si centil ini tersenyum. “Bapak, bayek la pak” begitu rengek nya seperti kaset yang di putar berulang-ulang. “Bapak bayek jam blape? Situ ade nek wan keh?” (ibu ku maksudnya) pertanyaan seperti berondongan AK-47 macet.
“Iya sayang, bapak sebentar lagi pulang, tapi bapak kerja dulu…, nanti kita maen lagi ya kalo bapak pulang?” bujukku membesarkan hatinya.
“Dede ni salok (kangen:Sambas), be…same bapak…salok dede ni!”. Tegasnya yang terkadang dengan intonasi yang lebih di tekan pada lafal salok. “Dede ni sayang, ngan bapak, dede nih tunggu bapak pulang….?”. sambungnya berharap.
“Tapi kan bapak cari uang dulu…, buat beli coklat, permen, beli kue, beli pita rambut, beli…”. Bujukku.
“Nda…k!, dede nda mau beli ape-ape, bapak tu nda usah capek, bapak tu nda usah bawak duet, bapak tu, dede cume maok bapak balek be…?” pintanya polos. “Dede ni maen sorang-sorang ni pak…” terangnya.
Membuatku terkekeh, terkadang aku berucap Alhamdulillah, aku di beri seorang gadis mungil yang berpikiran cerdas seperti ini.
Tingakah lakunya, terkadang membuatku semakin gemes, namun satu penyakitnya. Tidak bisa jauh dari pangkuanku, manja itulah sifatnya.
Ya, aku sadar ini terjadi karena aku jarang pulang, untuk setiap harinya. Di karenakan aktivitas mengharuskan aku berjarak dengan buah hatiku. Makanya bisa manja begini, uh….
Tanda-tanda kedekatannya padaku ketimbang induknya, mulai terasa waktu bayi. Setiap kepergianku untuk mencari sesuatu yang merupakan kewajibanku selaku kepala keluarga. Ibunya sambil mengendong selalu mengantarkanku di depan pintu seperti layaknya sinetron.
Dia menatapku dengan mata yang sendu, seolah-olah tau bakal di tinggal beberapa saat, ku lihat air mata isteriku mengalir. Seolah tak tega melihat si centil ini berpisah denganku barang sesaat.
Ini aseli lho, pemirsa !.
Ya, inilah kenyataan yang di hadapi. Dan harus ku lalui, entah sampai kapan.
Yang terpenting aku tak berniat salah, kepada mereka berdua. Aku benar-benar, mencari sesuatu yang memang harus ku cari, dan itulah kewajibanku.
Meski tak selayak orang-orang besar, tak sepadan jerih payahku dengan hasil yang ku dapat. Dan tak semewah atau perlente seperti kebanyakan mereka yang turun naik mobil pribadi.
Paling tidak aku memiliki perlawanan, bahwa hidup yang keras ini harus ku tempa dengan semangat baja dengan beberapa keahlian yang ku dapatkan dari hasil riset ku sendiri, dari lembaga yang bernama yang di sebut “Wax_sanggop, yang melayani segala jenis pekerjaan melalui lintas sector pengorbanan halal”. Karena aku bukan pengemis, aku tak mau hidup ini dalam sebuah jalan buntu.
Belum berhasilnya aku, ini hanya di karenakan aku adalah sebuah boneka yang dapat di nina-bobokan, seperti kobokan.
Yakinlah ini adalah proses, gerbang menuju kesuksesan.
Anak ku sayang berdoa lah, agar esok bapak mu mendapat sebuah wadah yang lebih jelas untuk lebih efisien dalam berkarya. Bukan nasib seperti hari-hari kemarin, bahkan bukan seperti saat engkau belum terlahir ke dunia ini, bukan seperti saat kita hijrah dan pulang lagi ke sini.
Agar esok di kemudian hari bapak tidak lagi bekal tenda, dan bila engaku lelah bapak akan setia meng ipok-ipok kan (ipok-ipok = nina-bobok : bahagialah si nina namanya selalu di sebut).
Icha sayang, sabar ya nak ya…
Kata-kata merengek yang sering di lontarkan oleh si sulung Icha kepada aku. Saat ku telpon, untuk menebus rasa kangenku berjumpa, bermain, bersenda gurau dengan buah hati kesayanganku.
Tadinya emang jujur, aku kangen sama ibunya (jangan kasi tau yang laen ya…, rahasia sama situ aja yang baca ini…hue hehe ehe).
Baru aja sepatah dua patah bicara, keburu telpon ibunya di sambar Icha “si lesung pipit” julukan yang di berikan oleh semua orang ketika melihat si centil ini tersenyum. “Bapak, bayek la pak” begitu rengek nya seperti kaset yang di putar berulang-ulang. “Bapak bayek jam blape? Situ ade nek wan keh?” (ibu ku maksudnya) pertanyaan seperti berondongan AK-47 macet.
“Iya sayang, bapak sebentar lagi pulang, tapi bapak kerja dulu…, nanti kita maen lagi ya kalo bapak pulang?” bujukku membesarkan hatinya.
“Dede ni salok (kangen:Sambas), be…same bapak…salok dede ni!”. Tegasnya yang terkadang dengan intonasi yang lebih di tekan pada lafal salok. “Dede ni sayang, ngan bapak, dede nih tunggu bapak pulang….?”. sambungnya berharap.
“Tapi kan bapak cari uang dulu…, buat beli coklat, permen, beli kue, beli pita rambut, beli…”. Bujukku.
“Nda…k!, dede nda mau beli ape-ape, bapak tu nda usah capek, bapak tu nda usah bawak duet, bapak tu, dede cume maok bapak balek be…?” pintanya polos. “Dede ni maen sorang-sorang ni pak…” terangnya.
Membuatku terkekeh, terkadang aku berucap Alhamdulillah, aku di beri seorang gadis mungil yang berpikiran cerdas seperti ini.
Tingakah lakunya, terkadang membuatku semakin gemes, namun satu penyakitnya. Tidak bisa jauh dari pangkuanku, manja itulah sifatnya.
Ya, aku sadar ini terjadi karena aku jarang pulang, untuk setiap harinya. Di karenakan aktivitas mengharuskan aku berjarak dengan buah hatiku. Makanya bisa manja begini, uh….
Tanda-tanda kedekatannya padaku ketimbang induknya, mulai terasa waktu bayi. Setiap kepergianku untuk mencari sesuatu yang merupakan kewajibanku selaku kepala keluarga. Ibunya sambil mengendong selalu mengantarkanku di depan pintu seperti layaknya sinetron.
Dia menatapku dengan mata yang sendu, seolah-olah tau bakal di tinggal beberapa saat, ku lihat air mata isteriku mengalir. Seolah tak tega melihat si centil ini berpisah denganku barang sesaat.
Ini aseli lho, pemirsa !.
Ya, inilah kenyataan yang di hadapi. Dan harus ku lalui, entah sampai kapan.
Yang terpenting aku tak berniat salah, kepada mereka berdua. Aku benar-benar, mencari sesuatu yang memang harus ku cari, dan itulah kewajibanku.
Meski tak selayak orang-orang besar, tak sepadan jerih payahku dengan hasil yang ku dapat. Dan tak semewah atau perlente seperti kebanyakan mereka yang turun naik mobil pribadi.
Paling tidak aku memiliki perlawanan, bahwa hidup yang keras ini harus ku tempa dengan semangat baja dengan beberapa keahlian yang ku dapatkan dari hasil riset ku sendiri, dari lembaga yang bernama yang di sebut “Wax_sanggop, yang melayani segala jenis pekerjaan melalui lintas sector pengorbanan halal”. Karena aku bukan pengemis, aku tak mau hidup ini dalam sebuah jalan buntu.
Belum berhasilnya aku, ini hanya di karenakan aku adalah sebuah boneka yang dapat di nina-bobokan, seperti kobokan.
Yakinlah ini adalah proses, gerbang menuju kesuksesan.
Anak ku sayang berdoa lah, agar esok bapak mu mendapat sebuah wadah yang lebih jelas untuk lebih efisien dalam berkarya. Bukan nasib seperti hari-hari kemarin, bahkan bukan seperti saat engkau belum terlahir ke dunia ini, bukan seperti saat kita hijrah dan pulang lagi ke sini.
Agar esok di kemudian hari bapak tidak lagi bekal tenda, dan bila engaku lelah bapak akan setia meng ipok-ipok kan (ipok-ipok = nina-bobok : bahagialah si nina namanya selalu di sebut).
Icha sayang, sabar ya nak ya…
Jumat, 14 November 2008
Keyboard Macet
Hal kecil yang sangat menyebalkan adalah ketika tugas menumpuk. Masalah pun muncul. Perangkat eksternal yang wajib di miliki, seperti keybord tiba-tiba saja macet pada salah satu tuts-nya. Umpamanya tombol “A” di pencet tetep aja nga keluar huruf yang kita kehendaki di layar monitor. Bikin panas hati..............
Apalagi pada pengguna program adobe photoshoop, pm, word. Fungsi tombol “shift”, “Ctrl”, “Alt”. Mutlak saban waktu di pentung pake jari.
Bisa jadi ini di sebabkan kondisi tentakel (kami menyebutnya demikian) di dalam panel keybord mengalami selip. (Bukan hanya motor aja yang bisa selip, he...he...he...).
Seperti juga yang pernah kami alami, ketika itu tombol shift kiri nga mau bekerja padahal sudah sekuat tenaga “di pencet”, “di kepruk”, tetep aja nga mau jalan. Jalan terakhir pengen gue bakar aja ni barang !!!.
Wal hasil, ada temen yang berbaik hati ngasi keyboard bekas, soale waktu itu belum nemu duit di tengah jalan. Buat apa beli keyboard lagi, kalo yang lama masih bisa di perbaiki. Toh pada akhirnya bisa-bisa punya story yang sama. Mungkin dengan sedikit servis, bisa di akali sepanjang jack port-nya nga trouble.
Meski tu keybord udah amat usang, tulisan per huruf djuga nga karu-karuan, hilang sablonannya. Tapi tentakel daleman masih sip buat “di kawinin di bawah umur” dengan keybord gue yang bermasalah tadi. Alhamdulillah dengan sedikit ilmu elektronik gue coba atasi ini masalah.
Kedua panel keyboard gue buka pake obeng minus dan terjadilah kanibalisasi, hati-hati ketika membuka papan pcb/jalur jangan sampai terlipat. Kalo terlipat atau patah bisa jadi itu keybord bisa pensiun seumur hidup, (kesimpulannya nga usah di bahas lagi dah) tuker tentakel yang bermasalah tadi atau bisa aja atur posisinya kalo hanya mengalami “selip” sampai pada posisi yang benar.
Kembalikan ke posisi semula, rakit kembali dan siap action...........
Apalagi pada pengguna program adobe photoshoop, pm, word. Fungsi tombol “shift”, “Ctrl”, “Alt”. Mutlak saban waktu di pentung pake jari.
Bisa jadi ini di sebabkan kondisi tentakel (kami menyebutnya demikian) di dalam panel keybord mengalami selip. (Bukan hanya motor aja yang bisa selip, he...he...he...).
Seperti juga yang pernah kami alami, ketika itu tombol shift kiri nga mau bekerja padahal sudah sekuat tenaga “di pencet”, “di kepruk”, tetep aja nga mau jalan. Jalan terakhir pengen gue bakar aja ni barang !!!.
Wal hasil, ada temen yang berbaik hati ngasi keyboard bekas, soale waktu itu belum nemu duit di tengah jalan. Buat apa beli keyboard lagi, kalo yang lama masih bisa di perbaiki. Toh pada akhirnya bisa-bisa punya story yang sama. Mungkin dengan sedikit servis, bisa di akali sepanjang jack port-nya nga trouble.
Meski tu keybord udah amat usang, tulisan per huruf djuga nga karu-karuan, hilang sablonannya. Tapi tentakel daleman masih sip buat “di kawinin di bawah umur” dengan keybord gue yang bermasalah tadi. Alhamdulillah dengan sedikit ilmu elektronik gue coba atasi ini masalah.
Kedua panel keyboard gue buka pake obeng minus dan terjadilah kanibalisasi, hati-hati ketika membuka papan pcb/jalur jangan sampai terlipat. Kalo terlipat atau patah bisa jadi itu keybord bisa pensiun seumur hidup, (kesimpulannya nga usah di bahas lagi dah) tuker tentakel yang bermasalah tadi atau bisa aja atur posisinya kalo hanya mengalami “selip” sampai pada posisi yang benar.
Kembalikan ke posisi semula, rakit kembali dan siap action...........
Cara Convert File
Jika anda adalah seorang pemula di bidang design outdoor dan indoor. Ada kalanya setelah kita mendesign sebuah lay out, katakanlah anda di tugasi oleh konsumen untuk merancang sebuah design undangan pernikahan. Yang mana dalam design anda tadi tentunya di beri pemanis berupa bingkai, foto calon mempelai, font variatif yang wajib diconversikan.
Agar nantinya design dapat terbaca ke komputer konsumen ketika di perlihatkan.
Atau jika anda, hanya mengambil jasa designnya saja sementara anda mencetak pada rekanan bisnis anda. Convert mutlak di lakukan.
Sesuai pengalaman saya, waktu itu ada beberapa order pemesanan digital printing. Setelah di buatkan desain, untuk itu pun konsumen sudah saya perlihatkan hasil lay out-nya, dan setuju !.
Proses selanjutnya mengirim cd file kepada perusahaan yang bergerak di bidang digital printing yang berdomisili di Jakarta. Dengan jasa kurir yang cukup handal dan terpercaya.
Selang 2 hari berderinglah ha-pe saya, “Halo, met siang, bp...(yang mulia tuan.........ehm....ehm...he...he...) saya dari perusahaan “.............” mau mengkonfirmasikan ini bapak........, ternyata file yang anda kirim tidak terbaca di link komputer kami..........., mohon kiranya bapak mengconvert file bapak dan mengirimkannya kembali ke kami.”
“Ok.......!”. kataku agak sedikit lagak sambil ngupil.
“Waduh convert itu apa ya bu.......? apa semacam obat penumbuh rambut di ubun-ubun?” tanyaku kebingungan. Berkali-kali saya bertanya dalam hati dan akhirnya untuk beranikan diri bertanya dengan ibu dimaksud. Anda bisa bayangkan, saya sudah pasti di tertawakan di seberang sana “Masa sih pak, katanya bapak seorang desainer tapi nga tau convert!”, tapi dasar muke gile, muke tebel, muke sembab, nga ngaruh buat gwe yang pengen banyak belajar.........
Pake telpon nga puas, pake fax fasilitas kantor saya manfaatin. Eh akhirnya saya minta resepnya via email aja. Biar lebih paham, maklumlah dulu waktu Jepang menyerang pulau Kalimantan Barat saya kebanyakan belajar ilmu pelet warisan kakek buyut yang 9 kali meninggal dan dengan gagah berani menikahi 14 gadis belia, yang tahan di servis 17 jam. Tapi umurku belum setua kakek ya........yang punya motto “Kelapa kalo makin tua makin banyak santennya, tapi jangan sampe ketuaan ntar malah bukannya kebanyakan santen malah jadi Kopra bung!”.
Kembali ke Con.........Vert........!
Nah buat yang bekerja di ilustrator :
1. buka dokumennya, (jangan buka yang laen malah kelihatan semua kurapnya).
2. sorot teks-nya saja
3. buka “type” lalu “Create Outline”. OK!
4. huruf sudah terconvert secara otomatis, untuk bingkai foto dan sebagainya nga ngaruh. Semua. Simpan file dengan nama lain.
5. boleh juga ente-ente fadhe copy-kan juga jenis-jenis fonts-nya yang digunakan pada desain ente semua dalam satu folder untuk di sertakan dalam file tadi.
Untuk yang bekerja di CorelDraw :
buka dokumen
Sorot dokumen / tulisan di maksudkan.
klik “Arrange” lalu “convert to curves”
Save as dengan nama lain lalu OK!.
Copy-kan juga jenis-jenis fonts-nya yang digunakan pada desain ente semua dalam satu folder untuk di sertakan dalam file tadi.
Akan lain buat anda, yang ingin menyertakan tabel untuk di cetak pada bidang kerja ilustrator, agar nantinya bisa di print out mesin cetak digital printing. Misalkan anda mendapatkan sebuah orderan plang proyek, papan stuktur, yang sebelumnya telah anda edit di Excel :
1. Siapkan bidang kerja anda, dalam hal ini dokumen anda.
2. klik “data” dan sorot “text to columns...” lalu OK-kan saja semua.
3. Tinggal copy pastekan saja file anda pada bidang kerja CorelDraw atau Ilustrator.
4. File siap di kirim untuk selanjutnya proses ripping berjalan pada mesin digital printing. Atau pada pagemaker untuk pengerjaan master film cmyk/grey dan plat.
Ucapan makasih yang banyak, buat ibu Leny. Memberikan sedikit masukan bagi saya “Tukang Belajar Sendiri, Dalam Kesunyian” salam buat semua crew-nya ya bu......kalo nga dari ibu nanag ku nau boh..........
Agar nantinya design dapat terbaca ke komputer konsumen ketika di perlihatkan.
Atau jika anda, hanya mengambil jasa designnya saja sementara anda mencetak pada rekanan bisnis anda. Convert mutlak di lakukan.
Sesuai pengalaman saya, waktu itu ada beberapa order pemesanan digital printing. Setelah di buatkan desain, untuk itu pun konsumen sudah saya perlihatkan hasil lay out-nya, dan setuju !.
Proses selanjutnya mengirim cd file kepada perusahaan yang bergerak di bidang digital printing yang berdomisili di Jakarta. Dengan jasa kurir yang cukup handal dan terpercaya.
Selang 2 hari berderinglah ha-pe saya, “Halo, met siang, bp...(yang mulia tuan.........ehm....ehm...he...he...) saya dari perusahaan “.............” mau mengkonfirmasikan ini bapak........, ternyata file yang anda kirim tidak terbaca di link komputer kami..........., mohon kiranya bapak mengconvert file bapak dan mengirimkannya kembali ke kami.”
“Ok.......!”. kataku agak sedikit lagak sambil ngupil.
“Waduh convert itu apa ya bu.......? apa semacam obat penumbuh rambut di ubun-ubun?” tanyaku kebingungan. Berkali-kali saya bertanya dalam hati dan akhirnya untuk beranikan diri bertanya dengan ibu dimaksud. Anda bisa bayangkan, saya sudah pasti di tertawakan di seberang sana “Masa sih pak, katanya bapak seorang desainer tapi nga tau convert!”, tapi dasar muke gile, muke tebel, muke sembab, nga ngaruh buat gwe yang pengen banyak belajar.........
Pake telpon nga puas, pake fax fasilitas kantor saya manfaatin. Eh akhirnya saya minta resepnya via email aja. Biar lebih paham, maklumlah dulu waktu Jepang menyerang pulau Kalimantan Barat saya kebanyakan belajar ilmu pelet warisan kakek buyut yang 9 kali meninggal dan dengan gagah berani menikahi 14 gadis belia, yang tahan di servis 17 jam. Tapi umurku belum setua kakek ya........yang punya motto “Kelapa kalo makin tua makin banyak santennya, tapi jangan sampe ketuaan ntar malah bukannya kebanyakan santen malah jadi Kopra bung!”.
Kembali ke Con.........Vert........!
Nah buat yang bekerja di ilustrator :
1. buka dokumennya, (jangan buka yang laen malah kelihatan semua kurapnya).
2. sorot teks-nya saja
3. buka “type” lalu “Create Outline”. OK!
4. huruf sudah terconvert secara otomatis, untuk bingkai foto dan sebagainya nga ngaruh. Semua. Simpan file dengan nama lain.
5. boleh juga ente-ente fadhe copy-kan juga jenis-jenis fonts-nya yang digunakan pada desain ente semua dalam satu folder untuk di sertakan dalam file tadi.
Untuk yang bekerja di CorelDraw :
buka dokumen
Sorot dokumen / tulisan di maksudkan.
klik “Arrange” lalu “convert to curves”
Save as dengan nama lain lalu OK!.
Copy-kan juga jenis-jenis fonts-nya yang digunakan pada desain ente semua dalam satu folder untuk di sertakan dalam file tadi.
Akan lain buat anda, yang ingin menyertakan tabel untuk di cetak pada bidang kerja ilustrator, agar nantinya bisa di print out mesin cetak digital printing. Misalkan anda mendapatkan sebuah orderan plang proyek, papan stuktur, yang sebelumnya telah anda edit di Excel :
1. Siapkan bidang kerja anda, dalam hal ini dokumen anda.
2. klik “data” dan sorot “text to columns...” lalu OK-kan saja semua.
3. Tinggal copy pastekan saja file anda pada bidang kerja CorelDraw atau Ilustrator.
4. File siap di kirim untuk selanjutnya proses ripping berjalan pada mesin digital printing. Atau pada pagemaker untuk pengerjaan master film cmyk/grey dan plat.
Ucapan makasih yang banyak, buat ibu Leny. Memberikan sedikit masukan bagi saya “Tukang Belajar Sendiri, Dalam Kesunyian” salam buat semua crew-nya ya bu......kalo nga dari ibu nanag ku nau boh..........
Si Butut Kesayangan Pembawa Hoki

Terasa aneh barang kali, di jaman ke edanan seperti sekarang ini masih tetap mempertahankan sampai titik bensin yang terakhir buat barang loakan kayak motor 2 tak ini.
Ya mungkin bisa jadi goblok, mana cukup buat sekali jalan 1 liter doang. Mana lagi campuran oli bikin dompet terburai akibatnya.
Tapi bagiku, memelihara binatang keparat kayak begini udah terasa cukup bagiku. Yah syukur sepanjang kita nga terlalu di recokin oleh debt colektor yang selalu menagih bulanan buat bayar cicilan sepeda motor baru.
Maklum ini motor ku dapat dari seorang kenalan. Pas waktu kubayar langsung ku tarik ke Singkawang. Maksudnya karena aku nda punya sarana transportasi pp dari tempat kerja ke rumah.
Bekerja sebagai buruh design kayak aku sangat melelahkan, di mana aku selalu di kejar oleh ambisiku untuk melampiaskan obsesi menyelesaikan proyek apapun yang berbau “halal”. Sewaktu si busuk ini belum ku miliki aku gunakan transportasi bis, yang tak jarang sopir dan kondektur meng-gratiskan aku. Tapi dengan syarat aku harus bergelantungan di pintu bis mikrolet, mikro bus.
Mungkin karena cacatku yang membuat mereka prihatin. Ternyata di planet bumi masih saja ada orang yang jalannya miring. Kasian.
Nah kembali ke perjalanan menuju kota Singkawang, aku, orang rumah, dan anakku Icha waktu itu baru berumur setahun empat bulan. Meluncur tepat jam 07.00 wib. Rencana “A” harus berjalan seperti yang pernah ku komitkan dalam otakku.
Udara dingin terasa menusuk tulang kala itu, maklum waktu itu Pontianak dilanda kabut tebal nan pekat. Pandangan berkisar 500 meter saja. Sebenarnya ibuku tidak merestui, perjalanan kami tapi oleh karena aku sudah bulatkan tekad untuk hijrah ke Singkawang. Apa pun yang terjadi aku harus berangkat demi cita-cita membangun kehidupan keluarga yang baru saja aku di anugerahi bayi yang membuat sejarah besar kehidupanku.
Sejarah besar, karena aku dan isteri berhasil merawat bayi dengan berat 1,3 kg sempet sangkut tembuni di pintu rahim sekitar 3 jam. Badan bayiku sudah biru, tapi setelah di adzankan aku bisikkan telinganya “Nak, aku bapakmu selamat datang melihat dunia ciptaan Allah SWT, jangan khawatir ayah dan ibu juga nenek bersyukur dengan kehadiranmu di sini, aku akan sekuat tenaga merawatmu, jika tidak….., aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri!” begitu bisikku ke telinganya sambil memperdengarkan surah Al Ikhlas ketelinga.
Oleh karena untuk mewujudkan impian kami inilah, aku beranikan diri membeli PX yang aku juga sedih. Manakala di tengah perjalanan di kota Mempawah, tiba-tiba mesin ngejim, sekeluarga aku hampir terpental, Alhamdulillah mungkin karena niat yang tulus. Aku dapat menguasai setang yang terasa bergetar dan liar. Maklum kondisi shock depan juga is dead.
Terasa sebuah mimpi buruk, isteriku terlihat pucat tapi tak kuasa berkomentar, mungkin takut karena aku juga bisa kalap kalo ngamuk. Entah aku juga tidak mengerti……
Ku coba membuka bagasi tempat pekakas kunci-kunci untuk membuka si semok yang ngadat. Ya sedikit info, aku dulunya juga sering bongkar pasang ini barang sendiri. Akibat keracunan organisasi Vespa Tua di kota ku. Tapi semenjak berkeluarga aku pension, nah uang pensiunnya aja belum ku ambil. Mungkin nanti di rapel saja, sementara ini simpan saja dulu ya. Buat yang baca ini tulisan diem-diem ae yo…
Permasalan terjadi ring piston ambrul, akhirnya berakibat blok silinder oval baret agak lecet. Ada sedikit pecah di lubang bilas. Ya ampun…., aku agak lupa ternyata aku ada bekal piston dengan ring yang sama. 9 M. udah terakhir kali ya….setelah kuganti coba start ternyata hidup…lagi….
Tapi motor tidak mau di genjot, praktis jalannya kayak kena bisul di selangkangan. Karena terjadi kebocoran kompresi. Dengan tertatih kucoba mengemudikan hingga sampailah aku di suatu bengkel temanku yang berkecimpung di dunia Vespa. Dan dari sana ku dapatkan blok excel 2 M original yang sampai sekarang biar bunyi mirip suami isteri bentrok lempar-lemparan piring belum kuganti tapi larinya cukup 100. Belum lagi noken as-nya yang ewer-ewer. Ya sudahlah…….
Patut di syukuri, dari kejadian-kejadian aneh mungkin Allah SWT, hanya mencoba kami, dan memberi tuntunan agar keluar dari permasalahan. Inilah rahmah dan hidayah-Nya, karena setiap sebelum aku berpergian “Ayatul Kursi” kumohonkan selalu jadi perisaiku.
Ya mungkin bisa jadi goblok, mana cukup buat sekali jalan 1 liter doang. Mana lagi campuran oli bikin dompet terburai akibatnya.
Tapi bagiku, memelihara binatang keparat kayak begini udah terasa cukup bagiku. Yah syukur sepanjang kita nga terlalu di recokin oleh debt colektor yang selalu menagih bulanan buat bayar cicilan sepeda motor baru.
Maklum ini motor ku dapat dari seorang kenalan. Pas waktu kubayar langsung ku tarik ke Singkawang. Maksudnya karena aku nda punya sarana transportasi pp dari tempat kerja ke rumah.
Bekerja sebagai buruh design kayak aku sangat melelahkan, di mana aku selalu di kejar oleh ambisiku untuk melampiaskan obsesi menyelesaikan proyek apapun yang berbau “halal”. Sewaktu si busuk ini belum ku miliki aku gunakan transportasi bis, yang tak jarang sopir dan kondektur meng-gratiskan aku. Tapi dengan syarat aku harus bergelantungan di pintu bis mikrolet, mikro bus.
Mungkin karena cacatku yang membuat mereka prihatin. Ternyata di planet bumi masih saja ada orang yang jalannya miring. Kasian.
Nah kembali ke perjalanan menuju kota Singkawang, aku, orang rumah, dan anakku Icha waktu itu baru berumur setahun empat bulan. Meluncur tepat jam 07.00 wib. Rencana “A” harus berjalan seperti yang pernah ku komitkan dalam otakku.
Udara dingin terasa menusuk tulang kala itu, maklum waktu itu Pontianak dilanda kabut tebal nan pekat. Pandangan berkisar 500 meter saja. Sebenarnya ibuku tidak merestui, perjalanan kami tapi oleh karena aku sudah bulatkan tekad untuk hijrah ke Singkawang. Apa pun yang terjadi aku harus berangkat demi cita-cita membangun kehidupan keluarga yang baru saja aku di anugerahi bayi yang membuat sejarah besar kehidupanku.
Sejarah besar, karena aku dan isteri berhasil merawat bayi dengan berat 1,3 kg sempet sangkut tembuni di pintu rahim sekitar 3 jam. Badan bayiku sudah biru, tapi setelah di adzankan aku bisikkan telinganya “Nak, aku bapakmu selamat datang melihat dunia ciptaan Allah SWT, jangan khawatir ayah dan ibu juga nenek bersyukur dengan kehadiranmu di sini, aku akan sekuat tenaga merawatmu, jika tidak….., aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri!” begitu bisikku ke telinganya sambil memperdengarkan surah Al Ikhlas ketelinga.
Oleh karena untuk mewujudkan impian kami inilah, aku beranikan diri membeli PX yang aku juga sedih. Manakala di tengah perjalanan di kota Mempawah, tiba-tiba mesin ngejim, sekeluarga aku hampir terpental, Alhamdulillah mungkin karena niat yang tulus. Aku dapat menguasai setang yang terasa bergetar dan liar. Maklum kondisi shock depan juga is dead.
Terasa sebuah mimpi buruk, isteriku terlihat pucat tapi tak kuasa berkomentar, mungkin takut karena aku juga bisa kalap kalo ngamuk. Entah aku juga tidak mengerti……
Ku coba membuka bagasi tempat pekakas kunci-kunci untuk membuka si semok yang ngadat. Ya sedikit info, aku dulunya juga sering bongkar pasang ini barang sendiri. Akibat keracunan organisasi Vespa Tua di kota ku. Tapi semenjak berkeluarga aku pension, nah uang pensiunnya aja belum ku ambil. Mungkin nanti di rapel saja, sementara ini simpan saja dulu ya. Buat yang baca ini tulisan diem-diem ae yo…
Permasalan terjadi ring piston ambrul, akhirnya berakibat blok silinder oval baret agak lecet. Ada sedikit pecah di lubang bilas. Ya ampun…., aku agak lupa ternyata aku ada bekal piston dengan ring yang sama. 9 M. udah terakhir kali ya….setelah kuganti coba start ternyata hidup…lagi….
Tapi motor tidak mau di genjot, praktis jalannya kayak kena bisul di selangkangan. Karena terjadi kebocoran kompresi. Dengan tertatih kucoba mengemudikan hingga sampailah aku di suatu bengkel temanku yang berkecimpung di dunia Vespa. Dan dari sana ku dapatkan blok excel 2 M original yang sampai sekarang biar bunyi mirip suami isteri bentrok lempar-lemparan piring belum kuganti tapi larinya cukup 100. Belum lagi noken as-nya yang ewer-ewer. Ya sudahlah…….
Patut di syukuri, dari kejadian-kejadian aneh mungkin Allah SWT, hanya mencoba kami, dan memberi tuntunan agar keluar dari permasalahan. Inilah rahmah dan hidayah-Nya, karena setiap sebelum aku berpergian “Ayatul Kursi” kumohonkan selalu jadi perisaiku.
Sabtu, 11 Oktober 2008
Cup Sayang anakku Manis
Takbir tengah mengema di seluruh angkasa Bumi Khatulistiwa. Bunyi petasan dentuman meriam karbit di sekitar Sungai Kapuas. Meraja Lela menghentakkan kuping. Terpaku aku disini. Dibawah naungan rumbia yang telah lusuh oleh Lekangnya panas mentari sedari akhir puasa 1429 Hijriah tadi, terbasuh oleh hujan.
Si Annisa kecil yang biasa kupanggil Icha kupapah diatas pangkuanku yang bergetar mendengar takbir dan tahmid tak kalah hebat berkumandang.............
Terjadi kepiluanku ketika teringat pada ayah dan ibu yang membesarkanku,
Pilu teringat mereka membelikanku sepatu baru, baju seadanya, sementara aku saat ini mendekap erat anakku yang berada di pangkuanku. Sambil menunggu ibunya menggoreng rempeyek.........,eyek..............,
"Tadi siang die menangis ye bang, nak minta di-bali-kan sipatu nang tinggi. Pakai baju banyak-2.....!" kata isteriku sambil menyeka airmatanya.
Aku hanya terdiam dan menahan untuk tidak menitikkan air mata, sambil berusaha menyebut Alhmdulillah..........sepanjang-Nya.
Aku, katanya bekerja.........., tapi perusahaan tidak mampu menggaji lagi.
THR.........., jauh bo........... mana kaga protes kayak begini?????????
yah....... Alhamdulillah, tangis anakku mereda dipangkuanku sambil Alhamdulillah aku berpikir semoga di ke-esokan hari dia tak lagi merengek ketika kawan-kawannya melintas di gubuk kami sambil mengedehkan baju baru yang di beli oleh ayah ibunya..........
Cup Sayang Anakku Annisa Warahmah..............maafkan Ayah & Ibumu..........
Si Annisa kecil yang biasa kupanggil Icha kupapah diatas pangkuanku yang bergetar mendengar takbir dan tahmid tak kalah hebat berkumandang.............
Terjadi kepiluanku ketika teringat pada ayah dan ibu yang membesarkanku,
Pilu teringat mereka membelikanku sepatu baru, baju seadanya, sementara aku saat ini mendekap erat anakku yang berada di pangkuanku. Sambil menunggu ibunya menggoreng rempeyek.........,eyek..............,
"Tadi siang die menangis ye bang, nak minta di-bali-kan sipatu nang tinggi. Pakai baju banyak-2.....!" kata isteriku sambil menyeka airmatanya.
Aku hanya terdiam dan menahan untuk tidak menitikkan air mata, sambil berusaha menyebut Alhmdulillah..........sepanjang-Nya.
Aku, katanya bekerja.........., tapi perusahaan tidak mampu menggaji lagi.
THR.........., jauh bo........... mana kaga protes kayak begini?????????
yah....... Alhamdulillah, tangis anakku mereda dipangkuanku sambil Alhamdulillah aku berpikir semoga di ke-esokan hari dia tak lagi merengek ketika kawan-kawannya melintas di gubuk kami sambil mengedehkan baju baru yang di beli oleh ayah ibunya..........
Cup Sayang Anakku Annisa Warahmah..............maafkan Ayah & Ibumu..........
Langganan:
Postingan (Atom)